Sosiologi Al Qur’an

MUHAMMAD KHAIRANSYAH
10 September 2011

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah, kini aku punya kesempatan untuk menelusuri satu ilmu lagi, yaitu sosiologi. Wah ternyata sangat menyenangkan dan juga sangat bermanfaat, apalagi ketika menemukan berbagai realitasnya dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di masjid, di tempat kerja, di keluarga besar, dan seterusnya. Wah kalau sudah begini selanjutnya bisa jadi praktisi juga nih, eh minimal untuk diri sendiri dan keluarga, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir “ilmu ini jitu banget untuk membebaskan seseorang dari masalah dan kerumitan sosialnya di berbagai tingkat lingkungan yang didiaminya.”

Sejak bayi aja, setiap kita sudah dihadapkan dengan berbagai realitas sosial: bagaimana kita sebagai bayi mendapat sambutan dari orang tua dan orang-orang terdekat dari berbagai usia dan berbagai kebiasaan, adat dan tingkat pendidikan, yang kemudian secara dominan membentuk kepribadian kita dan menjadi bekal atau cikal bakal kehidupan sosial kita di masa-masa selanjutnya, terutama untuk memasuki usia anak-anak dan sekolah. Dan setelah itu seiring semakin besar usia kita, realitas sosial itu menerpa kita tak ubahnya seperti cuaca dari musim ke musim, kadang ada suasana cerahnya, tetapi juga ada mendung, hujan bahkan badainya …. yang …. SEANDAINYA jika kita atau anak-anak kita menyadari kehadiran realitas sosial itu secara sosiologis dan bukan sekedar secara sosial semata, maka “KITA ATAU ANAK-ANAK KITA TIDAK AKAN PERNAH KEHILANGAN AKAL” dalam menjalaninya. Ibaratnya adalah seperti seorang tukang bangunan/rumah, seorang tukang tidak akan pernah kehilangan akal bagaimana untuk membuat atau memperbaiki kerusakan rumah … adaaaa …. aja solusinya …. keren banget kan. Ya keren lah … kalau di rumah ada keharmonisan itu adalah produk langsung dari kegiatan sosial yang secara alat dan keterampilan sosial memadai, dan ketika terjadi ketidakharmonisan juga produk kegiatan sosial tetapi yang secara alat dan keterampilan penggunaan alat sosial yang kurang memadai, yang bagi tukang sosial (sosiolog/praktisi sosial-yang secara sadar dapat menyadari kehadiran alat sosial dan cara penggunaan alat sosial tersebut) mestinya ada saja akal untuk membangun hubungan yang baik atau memperbaiki kekurangharmonisan tersebut. Nah … hingga disini sudah terasa tuh bagaimana manfaat sosiologi minimal untuk anak-anak tercinta kita: anak-anak dapat menjadi nyaman berada dalam lingkungan keluarganya, anak-anak dapat membangun hubungan-hubungan yang produktif dengan anggota-anggota keluarganya yaitu ada produk-produk dari hubungan itu yang dapat meningkatkan kualitas keterampilan, pemahaman dan kehidupannya misalnya seorang ibu dapat mengarahkan anaknya untuk belajar dengan baik dan si anak menerima arahan itu dengan baik pula, dst.

Dan akhirnya diujung pengembaraan keilmuan sosiologis ini, aku menemukan diriku pada pertanyaan “Bagaiamanakah wajah/kenampakan/aplikasi sosiologi al Qur’an kita?”. Wah …. pak/buk kita bisa mengamati diantaranya dari : bagaimana ustad-ustad berceramah di masjid, bagaimana kehidupan masjid-masjid, bagaimana pesan-pesan al Qur’an terjelmakan dalam kehidupan umat sehari-hari, dll.

Sosiologi al Qur’an berarti sejauhmana penerimaan umat terhadap pesan-pesan al Quran itu positif. Penerimaan positif itu terasa mulai dari penyampai pesan itu sendiri (Nabi, ulama, ustad, dst), baik dalam hal cara penyampaiannya maupun keteladanannya. Misalnya, ketika ada kegiatan pengajian di masjid, lalu penceramah dengan memakai mic menyampaikan “alhamdulillah berkat rahmat Allah kita dapat berkumpul di tempat mulia ini, dan kita berbaik sangka saja pada saudara-saudara kita yang lain yang tidak sempat hadir pada saat ini barangkali ada halangan yang tidak memungkinkan untuk hadir bersama kita”, maka ini dapat terdengar menyenangkan baik bagi yang ada di dalam masjid maupun yang di luar masjid. Tapi kalau penceramah itu mengatakan “… jangan tanya mengapa mereka tidak datang ke masjid, berarti mereka tidak beriman, … dst”, sambil mengutip ayat tertentu seolah begitulah cara ayat itu disampaikan, yang tentunya dalam banyak kondisi cara penyampaian seperti ini bisa jadi menyenangkan bagi yang hadir di dalam masjid tetapi akan diterima secara negatif bagi orang-orang yang berada di luar masjid. Nah …. di sinilah sosiologi al Qur’an diperlukan. Dengan cara penyampaian pertama, penceramahnya akan lebih dapat diterima, pesan-pesan al Qur’an yang disampaikan lebih dapat diterima, perintah al Quran untuk menyampaikan agama secara ‘hikmah dan mau’izhah’ ditemukan selaras dengan kenyataan yang ditampilkan seorang sosok penceramah tersebut, dst. Sebaliknya dalam cara penyampaian kedua penceramah menjadi kurang diterima begitupun dengan pesan-pesannya. Dan ketika diperdalam lagi kasus demi kasus, maka kita akan mendapati sosiologi al Quran merupakan sesuatu yang krusial. Sosok Nabi adalah sosok yang terbaik dalam menyampaikan pesan-pesan agama dan memberikan keteladanan, bukan sosok yang mengancam, menghardik, mengecam, dst … bagaimana kita setuju kan dengan ini? Tentu saja setuju, sehingga beliau telah membuktikan agama Islam itu dapat menjadi rahmat bagi sekalian alam. Tegasnya, ketika dalam al Quran terdapat sejumlah ancaman untuk kalangan-kalangan tertentu, itu adalah sesuatu hal, dan tentang bagaimana cara ayat-ayat ancaman itu disampaikan, itu adalah sesuatu hal pula yang akan dapat ditemukan cara-cara tersebut dalam sosiologi al Alquran itu sendiri, diantara yaitu ayat yang menegaskan keharusan menyampaikan agama secara ‘hikmah dan mau’izhah’.

Nah …. dari sini kita sudah dapat menemukan titik start atau titik tolak motivasi kita untuk mendalami lebih jauh sosiologi al Quran. Dan karena al Quran itu milik dan untuk kita semua, maka ini adalah titik start bagi kita semua … dengan demikian pendalaman dari sosiologi al Quran adalah proyek kita bersama sebagai sesama umat agama ini … begitupun penerapan dan pemanfaatannya …..di kemudian hari …. MAKA KITA KERJAKAN BERSAMA-SAMA BAGAIMANA?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s