Sastra dan Sastra Novel dalam Pendekatan Strukturalisme Sufistik

15 Desember 2017

A. Luapan Pemikiran

Membaca sejumlah literature tentang Ilmu Sastra, kami temukan bahwa strukturalisme dianggap berhasil dalam menunjukkan lapisan permukaan dari sastra baik berupa Novel maupun Sajak atau lainnya, tetapi selalu mengalami kebuntuan ketika hendak menemukan makna dan penafsiran karya sastra. Disamping itu, kritik lainnya terhadap pendekatan strukturalisme terhadap sastra adalah bahwa strukturalisme diasumsikan hanya berfokus kepada sistem dan tidak terlibat dengan aspek di luar sistem yang berkaitan dengan “pelaku sastra” seperti psikologi, sosiologi, sejarah dan yang lainnya.

Dalam pengamatan kami, jika asumsi diatas objektif berarti para strukturalis pendahulu telah melewatkan suatu tahapan dalam penerapan pendekatan strukturalisme terhadap sastra, yaitu tahapan penemuan maujid kongkrit dalam sastra berupa “sistem tanda”, dan bahwa di dalam sistem tanda terdapat “satuan tanda”, dan bahwa dengan ditemukannya satuan itulah memungkinkan dicapainya penafsiran. Adapun “lapisan” konten sastra hanya akan membawa pengarang, pembaca maupun peneliti kepada mekanisme pembuatan, pembacaan dan penelusuran konten sastra.

“Satuan tanda” sastra berbeda dengan “lapisan konten” sastra, satuan tanda sastra memiliki sifat-sifat yang analogis dengan satuan-satuan tanda dalam bahasa yaitu fonem, morfem dan sintaksis. Sifatnya yang mendasar adalah bahwa fonem adalah pembentuk morfem, dan morfem adalah pembentuk sintaksis. Jadi jika diurut unsur-unsur lapisan sastra novel secara intrinsik adalah meliputi : alur, tokoh, latar, gaya bahasa dan sudut pandang, maka perlu dijawab apakah dapat dikatakan alur sebagai pembentuk tokoh, tokoh sebagai pembentuk latar, dan seterusnya, tentu saja tidak bisa.

Menurut pemahaman kami, secara strukturalisme sastra merupakan ‘bahasa artistik’ sehingga satuan tanda pada sastra adalah fonem artistik, morfem artistik, dan sintaksis artistik. Artistik menunjukkan satuan-satuan sastra tidak seperti satuan tanda bahasa yang biasa yang datar dan hambar, tetapi memiliki valensi atau nilai yang terkait dengan sumber artistik di wilayah qalbu (Id dalam istilah psikoanalisis) manusia yaitu berupa sentuhan rasa, keindahan, keinginan dan lain-lain. Selanjutnya sentuhan rasa pada wilayah qalbu ini kemudian bergerak bertransformasi atau tepatnya bermetamorfosis ke wilayah pemikiran (ego dalam istilah psikoanalisis) dan kemudian bermetamorfosis ke dalam wilayah perilaku lahiriah.

Sehubungan dengan hal diatas, menurut hemat kami, karya sastra berperan dalam penyampaian bahasa secara artistik. Dengan bahasa artistik, maka makna yang disampaikan pada bahasa akan sekaligus memuat sentuhan rasa yang cukup bagi pembaca. Melalui makna seseorang akan mendapatkan gambaran tentang penyelesaian kendala dan pergolakan yang terjadi di wilayah pemikiran. Sedangkan melalui sentuhan rasa seseorang akan tergugah secara cukup dan terhidupkan wilayah qalbunya, sehingga akan membekalinya untuk dapat bertransformasi ke wilayah aktivitas lahiriah untuk mewujudkan keinginannya menjadi kenyataan atau untuk mengatasi kegelisahannya secara empiris dan lain sebagainya. Dengan demikian melalui karya sastra, seseorang akan dapat mengambil pelajaran untuk hidup secara utuh dalam menghadapi dan merespon diri dan dunianya. Diantara karya sastra adalah novel. Disamping memuat unsur bahasa dan artistik, novel juga memuat unsur fiktif dan naratif. Dengan unsur fiktif berarti semua yang terdapat dalam sebuah novel adalah bersifat imajinatif, dan dengan unsur naratif berarti novel mengikuti alur wacana naratif.

Dalam hal ini kami sekaligus mengevaluasi kategorisasi Sigmund Freud atas struktur kepribadian manusia yang ia nyatakan terdiri dari: Id, Ego dan Superego. Sebetulnya kategorisasi ini tidaklah konsisten dengan memasukkan superego, sebab superego tidaklah memiliki wilayah spesifik yang dapat dibedakan dengan Id dan ego, lantaran superego dapat menempati Id maupun ego. Dengan demikian Id dan ego sudah konsisten secara wilayah yaitu Id menempati qalbu (heart), dan ego menempati pikiran, sedangkan superego sebenarnya dimasukkan ke dalam kategorisasi struktur kepribadian manusia dengan pengkategorian sebagai hal-hal yang menentukan seseorang untuk berperilaku, tetapi luputnya perhatian terhadap wilayah masing-masing unsurnya akan berakibat pada inkonsistensi pemahaman terhadap manusia. Maka secara strukturalime dalam hemat kami “struktur kepribadian manusia” pada tataran teramati adalah terdiri dari qalbu (Id), pikiran (ego) dan perilaku lahiriah. Belum adanya teori yang mampu menjawab kompleksitas kepribadian manusia secara komprehensif adalah disebabkan karena sejauh ini tidak ditemukan struktur kepribadian manusia yang utuh. Dengan struktur kepribadian ini maka kepribadian adalah bentuk individual aktivitas qalbu yang bertransformasi atau bermetamorfosis menjadi aktivitas pemikiran dan kemudian bermetamorfosis menjadi aktivitas lahiriah pada seseorang dalam penempatan dirinya sebagai anggota sosial. Jika yang dimaksud superego oleh Sigmund Freud adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan, maka sebenarnya superego dengan pengertian itu di dalam strukturalisme adalah menunjuk kepada langue (sistem tanda) dan bukan kepada satuan tanda sebagaimana yang dapat diterima untuk Id dan ego. Sistem tanda adalah hubungan-hubungan yang terbentuk pada satuan tanda, jadi tentunya satuan tanda tidak sejajar dengan sistem tanda. Sehingga memasukkan superego ke dalam unsur pada struktur kepribadian sebagai yang setempat dengan Id dan ego adalah sebuah kekeliruan kategorik.

Kemudian kelanjutan dari penemuan unsur struktur kepribadian diatas kami juga hendak menegaskan analogisasinya dengan satuan tanda di dalam ilmu bahasa bahwa Id adalah seperti fonem, ego seperti morfem, dan perilaku lahiriah adalah seperti sintaksis. Tetapi untuk mencapai pemahaman ini kita tidak akan dapat dengan mudah menggunakan teknik bahasa yaitu dengan menyusun fonem menjadi morfem, dan menyusun morfem menjadi sintaksis. Untuk mencapai pemahaman tersebut, strukturalisme memiliki perangkat yang sangat fundamental yaitu valensi. Maka melalui valensi kita dapat menganalogisasikan perubahan atau transformasi fonem menjadi morfem dan morfem menjadi sintaksis, pada strutktur kepribadian manusia adalah bahwa Id lah yang bermetamorfosis menjadi ego, dan kemudian ego bermetamorfosis menjadi perilaku lahiriah. Sebetulnya satuan kepribadian manusia ini tidak dapat dicapai dengan strukturalisme sendirian, tetapi setelah dicerahkan oleh pendekatan sufistik. Sufistik lebih terang dan mencerahkan filsafat dan ilmiah.

Dengan ditemukannya satuan tanda kepribadian manusia yang konsisten seperti diatas, maka pergulatan sastra maupun intelektual seputar kendala penghubungan manusia dengan dunia dan Agama atau Tuhan, akan berakhir. Begitu juga dengan asumsi-asumsi bahwa terjadi pertempuran antara otak dengan qalbu, akan berakhir, karena yang terjadi adalah justru pertempuran dua atau beberapa keinginan di dalam wilayah Qalbu yang dibawa ke wilayah pikiran dan kemudian ke wilayah perilaku lahiriah. Berkenaan dengan hubungan Tuhan dengan dunia misalnya, bagaimana mungkin kita menjadikan hubungan Tuhan dengan dunia memiliki kendala …. bukankah semua yang ada di dunia ini adalah ciptaanNya?, begitupun hubungan antara manusia dengan dunia dan Tuhan, tentang kemungkinan manusia beragama untuk berpolitik dan lainnya. Secara sufistik, sebelum wilayah qalbu bahkan masih ada wilayah lainnya yaitu wilayah ruh, wilayah rahasia, wilayah rahasia dari rahasia, wilayah tersembunyi dan wilayah tersembunyi dari yang tersembunyi. Untuk menemukan satuan-satuan ini dan jati diri hubungan-hubungannya itulah manusia pada akhirnya mesti menempuh pendekatan sufistik. Melalui sufistik kita menjadi mengetahui bahwa semuanya adalah energi yang mengalir bermetamorfosis ke wilayah-wilayah lahiriah dan sebaliknya dari wilayah lahiriah kepada wilayah batiniah.

Selanjutnya berkenaan dengan fokus strukturalisme, sebetulnya fokus terhadap “sistem” sebagai sinkronik hanyalah tahapan yang semestinya didahulukan sebelum fokus kepada aspek diakronik (sejarah) dan sebelum fokus kepada “pelaku” yang akan terkait dengan aspek psikologi, sosial dan aspek-aspek lainnya di luar bahasa. Dengan demikian strukturalisme yang utuh adalah yang secara menyeluruh dapat dimodelkan kepada Linguistik Umum menurut Ferdinand de Saussure, yang justru mencakup Langage, Langue, Parole, Sinkronik dan Diakronik. Jadi menurut pengalaman kami dalam menerapkan pendekatan strukturalisme, tidak lah terhenti hingga langue (sistem) saja, justru langue itu kemudian digunakan untuk memahami parole (pelaku).

Didasarkan pada evaluasi diatas, maka dapat ditegaskan bahwa jika kritik terhadap strukturalisme adalah objektif, menunjukkan pendekatan strukturalisme terhadap pendefinisian sastra oleh pendahulu belum mencapai landasan ilmiah dan filosofis untuk mendapatkan pendefisian “sastra” sebagai “bahasa artistik”, dan menunjukkan pemahaman dan penerapan pendekatan strukturalisme belum komprehensif yang seharunya mencakup Langage, Langue, Parole, Sinkronik dan Diakronik pada sastra, sehingga menjadi latar belakang bagi kita untuk mengupayakannya di sini.

B. Rumusan Umum Sastra dan Sastra Novel dalam Pendekatan Strukturalisme

1.  Evaluasi Definisi Sastra

Menurut Semi (1998: 8) sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia.

Kemudian Minderop (2011: 73) mengemukakan, setelah berpolemik demikian lama, beberapa pakar sependapat bahwa sastra adalah suatu karya tulis yang menggunakan bahasa yang indah dan memiliki keleluasaan untuk berbeda dengan bahasa pada umumnya dan bahkan dapat melanggar aturan bahasa sehari-hari. Bahasa sastra menjadi spesifik dan unik serta lain dari yang lain karena adanya gaya, symbol dan tanda-tanda bahasa yang dekoratif.

Tetapi Minderop (2011: 74) juga mengemukakan bahwa batasan diatas belum final karena terdapat pakar lain yang mendefinisikan, sastra sebagai suatu karya imaginatif yang disampaikan melalui bahasa dan gaya bahasa yang unik, indah serta mengadung ajaran tentang nilai-nilai kehidupan. Ada pula pakar yang mendefinisikan karya sastra dapat berbentuk esai yang berisi pemikiran atau gagasan pengarang yang disampaikan melalui bahasa yang indah dan artistik. Namun demikian terdapat sekelompok kritikus sastra militan yang berpolemik dengan menyatakan sastra tidak perlu mengkaitkan antara seni dengan misteri yang terkandung di dalamnya; sastra merupakan telaah teks semata. Menurut mereka sastra tidak ada kaitan dengan bayang-bayang religi atau psikologi maupun sosiologi; sastra sekedar organisasi bahasa. Sastra menurut mereka, sekedar fakta material yang fungsinya dapat dianalisis sebagaimana uji terhadap mesin; karena sastra merupakan kumpulan kata-kata bukan objek atau perasaan. Mereka berpandangan, suatu kesalahan bila menganggap sastra sebagai ekspresi pikiran pengarang. Namun demikian, tidak dapat disangkal bila kita membaca suatu karya sastra kita terdorong untuk secara ekstra menampilkan kewaspadaan dramatis terhadap bahasa dengan mencoba menggali sedalam-dalamnya dan mengaktifkan kesadaran kita agar memperoleh pemahaman terhayati.

Dan Minderop (2011: 75-76) juga mengemukakan, definisi sastra yang lebih spesifik yang diambil dari salah satu kamus istilah sastra menyatakan: sastra adalah karya tulis yang mencakup: epic, drama, lyric, novel, short story, ode. Suatu karya tulis dapat dikalifikasikan sebagai karya sastra apabila karya tersebut memiliki kualitas tunggal dan keaslian serta mengandung nilai-nilai estetik dan artistik.

Setelah uraian diatas akhirnya Minderop (2011: 76) merangkum definisi sastra sebagai suatu karya tulis yang memberikan hiburan dan disampaikan dengan bahasa yang unik, indah dan artistik serta mengandung nilai-nilai kehidupan dan ajaran moral sehingga mampu menggugah: pengalaman, kesadaran moral, spiritual dan emosional pembaca.

Jika mengambil definisi-definisi sastra diatas, bisa jadi bagi sebagian kalangan sudah cukup untuk menggambarkan dan memberikan batasan terhadap pengertian sastra. Tetapi bagi kalangan teoritis tentu belum memadai, sebab bagi kalangan teoritis sebuah definisi haruslah sebagai berangkat dari pendekatan yang ketat yang digunakan untuk menghasilkan definisi tersebut, yaitu agar definisi yang diperoleh memiliki landasan yang kokoh secara ilmiah maupun fisolofis. Pada definisi sastra yang diberikan Semi dan Minderop diatas, kita tidak menemukan landasan ilmiah dan filosofis tentang bagaimana definisi itu didapatkan, sehingga menyebabkan definisi itu dianggap belum kokoh. Definisi Minderop adalah bersifat rangkuman dari sejumlah definisi yang tidak dikemukakan landasan ilmiah atau filosofisnya, dan rangkuman tersebut memang mengandung kerancuan dan ketidaktertiban. Kerancuan definisi Minderop yaitu mendefinisikan sastra sebagai suatu karya tulis, padahal tentunya karya sastra secara konkrit pertama-tama bukanlah sebagai karya tulis tetapi sebagai ujaran yang kemudian dituliskan ataupun didramakan, dan lain sebagainya. Kemudian ketidaktertiban pada definisi sastra yang diberikan Minderop yaitu penggunaan unsur “indah” dan “artistik” secara bersamaan yang barangkali hanya cukup dinyatakan dengan unsur “artistik” saja karena artistik sudah mengandung nilai “indah” di dalamnya. Kemudian Minderop memang sudah mengemukakan kandungan nilai-nilai kehidupan dan ajaran moral dalam sastra tetapi ia mendapatkannya secara intuitif yaitu dengan ungkapannya (Minderop, 2011: 74):

Namun demikian, tidak dapat disangkal bila kita membaca suatu karya sastra kita terdorong untuk secara ekstra menampilkan kewaspadaan dramatis terhadap bahasa dengan mencoba menggali sedalam-dalamnya dan mengaktifkan kesadaran kita agar memperoleh pemahaman terhayati.

Sehubungan dengan gambaran intuitif oleh Minderop diatas, padahal secara pendekatan strukturalisme melalui Ferdinand de Saussure, sudah ditegaskan bahwa bahasa itu terdiri dari wujud lahiriahnya disebut dengan penanda (signifier) sedangkan maknanya atau kandungannya disebut petanda (signified), jadi tentunya juga demikian halnya dengan sastra yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Disamping Semi dan Minderop diatas, ada pengarang buku ilmu sastra yang menyertakan pendekatan ilmiah atau filosofis yang digunakan untuk mendapatkan definisi sastra yaitu misalnya Atmazaki melalui karyanya “Ilmu Sastra, Teori dan Terapan”.
Menurut Atmazaki (2007:28), mendefinisikan sastra secara universal merupakan pekerjaan yang sulit, sehingga kemudian untuk menentukan sastra ditawarkan untuk beralih kepada ciri-ciri, bahwa menentukan ciri-ciri sastra lebih urgen daripada membuat definisinya.

Atmazaki (2007: 23) menyatakan secara intuisi kita tahu mana gejala yang disebut sastra dan mana yang bukan sastra. Akan tetapi, sewaktu akan membuat batasannya, apa yang mulanya kita ketahui berangsur menjadi kabur.

Sebelum keputusan diatas, Atmazaki (2007: 3) telah mengutip penjelajahan pendefisian sastra dari berbagai pendekatan sebagaimana diringkas oleh Kristi Siegel meliputi : Kritik Baru (New Criticm), Kritik Arketipe (Mitos), Kritik Psikoanalisis, Marxisme, Pos-Kolonialisme, eksistensialisme dan Fenomenologi serta Hermeneutika, Formalisme Rusia, Avant-Garde/Surrealisme/Dadaisme, Strukturalisme dan Semiotik, Post-Strukturalisme dan Dekonstruksi, Pos-Modernisme, Resepsi dan Teori Respn Pembaca, Feminisme, Genre, Autobiografi, dan Travel. Kita tidak bermaksud memuat satu persatu definisi sastra oleh berbagai pendekatan tersebut, tetapi lebih untuk mengemukakan latar belakang Atmazaki dengan keputusan mendefinisikan sastra secara universal merupakan pekerjaan yang sulit dan sehingga kemudian untuk menentukan sastra ditawarkan untuk beralih kepada ciri-ciri, bahwa menentukan ciri-ciri sastra lebih urgen daripada membuat definisinya.

Selanjutnya karena kita tidak bermaksud untuk memuat satu persatu definisi sastra oleh berbagai pendekatan terdahulu, maka kita melakukan yang bersifat produktif yaitu dengan mengemukakan masalahnya secara mendasar, sebelum memberikan keputusan sebagaimana Atmazaki dengan justru beralih kepada ciri-ciri sastra. Apa yang akan kita lakukan adalah bersifat evaluatif dan berawal dari pendekatan tertentu saja yaitu sejauhmana pendekatan itu konsisten dengan cara kerja dan tahapan kerjanya dalam pendefinisian sastra, seperti strukturalisme.

Sejauh mata memandang, gambaran strukturalisme yang ditampilkan oleh teoritis ilmu sastra berkenaan dengan definisi sastra menurut strukturalisme adalah seperti Atmazaki (2007: 114) mengemukakan bahwa teori struktural dianggap belum cukup kuat untuk dapat membuka rahasia yang terkandung dalam karya sastra karena fokusnya yang semata-mata pada teks sastra secara otonom, teori tentang struktur hanya dimaksudkan untuk menjelaskan lapisan permukaan teks sastra, struktur dianggap bentuk sehinga tidak menyentuh isi karya sastra, kajian struktural hanya diarahkan pada interrelasi unsur-unsur dalam karya sastra sebagaimana dilakukan oleh kaum Formalism Rusia dan New Critism di Amerika Serikat. Lebih jauh Atmazaki (2007: 114-115) mengemukakan kritiknya terhadap strukturalisme yaitu bagaimanapun pentingnya struktur intrinsik (sastra sebagai seni), karya sastra tidak lahir dari kekosongan, tetapi selalu terkait dengan kehidupan sosial. Karya sastra memang mempunyai struktur, tetapi kajian struktur saja belum cukup untuk mendapatkan makna karya sastra secara total. Disebutkan pula bahwa (______, 2011: ) setiap mengarah kepada penafsiran sastra, strukturalisme selalu mengalami kebuntuan.

Lebih jauh kritikan terhadap pendekatan struktural bahkan telah diarahkan ke sumber gagasan pendekatan stukturalistik itu sendiri yaitu Linguistik yang dibawa oleh Ferdinand de Saussure tetapi dengan cara merepresentasikan perkembangannya, seperti yang dikemukakan oleh Atmazaki (2007: 115) dengan menunjukkan kenyataan bahwa dalam perkembangan linguistik, para linguis gramatikal transformasi generatif dan semantik konvensional juga melihat hal yang sama. Mereka mengakui bahwa banyak fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik struktural.

Pada inti gagasan strukturalisme tentang karya sastra naratif (prosa) berupa novel misalnya, menurut strukturalis terdahulu yaitu seperti diuraikan oleh Atmazaki (2007: 99):

“Karya sastra mempunyai beberapa unsur estetik. Taylor (1981:49) mengemukakan tiga unsur konseptual, yaitu action (tindakan: peristiwa dan urutan kejadian), character (watak: agen yang memotivasi dan memberi reaksiterhadap peristiwa), dan setting (latar: referensi bagi karakter dan tindakan). Boulton (1975:45) dan Beaty (1981:7) menambah satu unsur lagi theme (tema) dan mereka menyebut istilah action dengan istilah plot.”

Didasarkan pada teori strukturalis diatas, maka secara lebih lengkap disusunlah unsur-unsur karya sastra berbentuk novel seperti yang dapat ditemukan pada Atmazaki (2007: 99-107) yaitu terdiri dari: 1) Plot/alur, 2) Karakter/tokoh, 3) Latar, 4) Sudut pandang, dan 5) gaya bahasa.

Semua kritik terhadap pendekatan struktural pada dasarnya beralamat pada unsur-unsur karya sastra berbentuk novel seperti yang dikemukakan diatas. Diasumsikan bahwa dengan ditemukannya unsur-unsur tersebut maka tahapan penyelidikan strukturalisme terhadap sastra berbentuk novel telah sejalan dengan Linguistik Umum sebagaimana Ferdinand de Saussure, bahwa dengan demikian pekerjaan pendekatan strukturalisme terhadap sastra berbentuk novel telah selesai karena dikemukakan oleh para strukturalis.

Dalam hal diatas maka kita dapat mengemukakan pertanyaan, apakah penemuan terhadap unsur-unsur karya sastra berbentuk novel berupa 1) Plot/alur, 2) Karakter/tokoh, 3) Latar, 4) Sudut pandang, dan 5) gaya bahasa tersebut dapat disepadankan dengan penemuan ‘satuan tanda’ dalam Linguistik Umum oleh Ferdinand de Saussure. Satuan tanda dalam dalam Linguistik Umum Ferdinand de Saussure terdiri dari tingkatan fonem, morfem, dan sintaksis, dengan valensi atau nilai bahwa fonem lah yang membentuk morfem dan selanjutnya morfemlah yang membentuk sintaksis. Jadi dengan demikian apakah dapat dikatakan bahwa plot lah yang membentuk tokoh, kemudian tokoh akan membentuk latar, kemudian latar akan membentuk sudut pandang, dan sudut pandang akan membentuk gaya bahasa, tentu saja sama sekali tidak. Jika jawabannya tidak, maka berarti strukturalis terdahulu belum menemukan satuan tanda sastra sebagaimana yang dapat disepadankan dengan satuan tanda pada Linguistik Umum oleh Ferdinand de Saussure. Selanjutnya jika satuan tanda sastra pada kenyataannya belum ditemukan maka tentunya kita tidak dapat meneruskannya atau menggunakannya untuk menemukan sistem tanda sastra sebagai yang dapat disepadankan dengan Langue pada Linguistik Umum oleh Ferdinand de Saussure. Dengan demikian berarti kita belum dapat menemukan struktur sastra yang sesungguhnya yang justru dengannya akan memungkinkan kita mencapai penafsiran atau hermeneutika terhadap sastra.

Stigma lainnya terhadap strukturalisme adalah bahwa strukturalisme hanya tertarik kepada struktur dan meninggalkan parole dan diakronis. Padahal membatasi strukturalisme yang mengacu pada Ferdinand de Saussure dengan asumsi tersebut adalah tidak berdasar, sebab Ferdinand de Saussure dalam Linguistik Umum sudah menjelaskan bahwa melalui perspektif parole, perhatian pertama-tama pada linguistik haruslah ditujukan kepada langue dan aspek sinkronis, dengan tujuan bahwa ketika langue sinkronis sudah ditemukan dan dirumuskan maka langkah selanjutnya adalah menggunakannya untuk memahami parole dan aspek diakronis serta untuk menjawab berbagai persoalan apapun yang mengemuka di tataran Langage (fenomena umum bahasa).

Dengan pendekatan strukturalisme melalui perspektif parole atau pelaku sastra dapat ditemukan apa yang dihasilkan parole sastra adalah berupa “ujaran artistik”, artinya sastra adalah ‘bahasa artistik’. Dengan demikian maka satuan tanda pada sastra adalah fonem artistik, morfem artistik, dan sintaksis artistik. Artistik menunjukkan satuan-satuan sastra tidak seperti satuan tanda bahasa yang biasa yang datar dan hambar, tetapi memiliki valensi atau nilai yang terkait dengan sumber artistik di wilayah qalbu (Id dalam istilah psikoanalisis) manusia yaitu berupa sentuhan rasa, keindahan, keinginan dan lain-lain. Selanjutnya sentuhan rasa pada wilayah qalbu ini kemudian bergerak bertransformasi atau tepatnya bermetamorfosis ke wilayah pemikiran (ego dalam istilah psikoanalisis) dan kemudian bermetamorfosis ke dalam wilayah perilaku lahiriah.

Didasarkan pada evaluasi diatas, maka strukturalisme sudah melakukan tahapannya secara orisinil terhadap pendefinisian sastra, dan dapat dikatakan bahwa dengan tahapan itu berarti sastra sudah memiliki landasan ilmiah dan filosofis untuk mendapatkan pendefisian sastra yaitu sebagai “bahasa artistik”. Dengan definisi ini maka ia dapat menerima definisi-definisi sastra yang sejalan dengannya, diantaranya seperti yang telah kita kemukakan diatas dari Semi (1998: 8) yaitu suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia.

2.  Evaluasi Definisi Sastra Novel

Secara umum karya sastra terbagi tiga: yang berbentuk prosa, yang berbentuk pusi, dan yang berbentuk drama (Atmazaki, 2007:37).

Boulton (dalam Atmazaki, 2007: 39) mengemukakan novel termasuk jenis karya sastra berbentuk (formal) prosa fiksi naratif, disamping roman dan cerita pendek. Kemudian Taylor (dalam Atmazaki, 2007: 40) mengemukakan novel menciptakan ilusi terhadap realitas aktual atau membuat dunia fiksi menjadi artifisial agar perhatian kita terarah pada suatu hubungan yang imajinatif antara persoalan atau tema novel dan dunia nyata yang secara aktual kita hidupi. Abrams (dalam Atmazaki, 2007: 40) menjelaskan bahwa novel lebih ditandai oleh kefiksiannya yang berusaha memberikan efek realis, dengan merepresentasikan karakter yang kompleks dengan motif yang bercampur dan berakar dalam kelas sosial, terjadi dalam struktur kelas sosial yang berkembang ke arah yang lebih tinggi, interaksi dengan beberapa karakter lain, dan berkisah tentang kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan uraian diatas, berkenaan dengan sastra novel, dengan dicapainya di awal definisi sastra sebagai “bahasa artistik”, maka berarti secara konsisten dalam pendekatan struktural definisi sastra novel adalah “bahasa artistik fiktif naratif”, yaitu dengan penambahan unsur fiktif naratif pada pendefisiannya yang membedakannya dengan puisi dan drama sebagaimana yang juga dikemukakan Boulton.

Penambahan unsur fiktif pada definisi novel berarti novel adalah bahasa artistik yang memuat hal-hal yang tidak nyata atau fiktif meliputi berbagai hal atau jenis meliputi romantik, realisme, gotik, naturalisme, proletarian, alegori, simbolisme, satire, sains, utopia, ekspresionisme, psikologi, eksistensialisme, dan autobiografi. Simposium (dalam Atmazaki, 2007: 31) mengemukakan fiksi, sering pula disebut cerita rekaan, ialah cerita dalam prosa, hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, dan penilaiannya tentang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, ataupun pengolahan tentang peristiwa-peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalannya.

Selanjutnya penambahan unsur naratif pada definisi novel berarti novel adalah rangkaian kalimat yang bersifat narasi atau bersifat menguraikan (menjelaskan), dalam makna lain naratif dikatakan sebagai prosa yang subjeknya merupakan suatu rangkaian kejadian, lengkapnya dijelaskan Wikipedia (2017) yaitu naratif (narrative) setidaknya mengandung unsur judul (title), orientasi (orientation), komplikasi (complication), dan resolusi (resolution). Dan ada yang menambahkan coda sebagai unsur naratif (materi4belajar, 2016), yaitu petuah atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks narasi tersebut yang diharapkan dapat diambil hikmahnya oleh pembaca. Dan dengan unsur naratif pada novel berarti kita telah membedakan teks novel dengan jenis-jenis teks lainya yaitu teks deskripsi, teks prosedur, teks laporan, dan teks eksposisi. Dengan identifikasi pembedaan ini, maka teks novel memiliki struktur yang berbeda dengan teks-teks lainnya. Secara pendekatan struktural, kita dapat merunut satuannya dari fonem, morfem dan sintaksis. Dan bahwa sintaksis berkembang menjadi teks atau wacana, sehingga pada tataran teks kita dapat menemukan struktur novel adalah sebagaimana disebutkan diatas yaitu terdiri dari judul (title), orientasi (orientation), komplikasi (complication), resolusi (resolution), dan coda.

3.  Evaluasi Struktur Sastra Novel

Sebagaimana telah dikemukan diatas, definisi sastra novel secara struktural adalah “bahasa artistik fiktif naratif”. Kemudian bagaimanakah definisi ini dapat membuka jalan bagi kita untuk menemukan struktur sastra novel.

Didasarkan pada teori strukturalis terdahulu, para ilmuwan sastra novel mengemukakan unsur-unsur karya sastra berbentuk novel seperti yang dapat ditemukan pada Atmazaki (2007: 99-107) yaitu terdiri dari: 1) Plot/alur, 2) Karakter/tokoh, 3) Latar, 4) Sudut pandang, dan 5) gaya bahasa. Dan Nurgiyantoro (2000:23) menyebutkan unsur novel terdiri dari tema, peristiwa, cerita, plot, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.

Secara struktural, struktur sastra novel diatas tidaklah kokoh, tidaklah konsisten, dan tidak komprehensif. Dengan unsur-unsur tersebut seolah kita dihadapkan pada bayangan barangkali masih ada yang lain, dan pikiran barangkali unsur-unsurnya tidaklah memiliki wilayah yang sama satu sama lain yang tidak dapat disejajarkan dan yang menjadi kendala bagi kita secara gramatikal artistik untuk menghubungkan satu unsur dengan unsur lainnya terutama untuk mencapai penafsiran.

Dengan dicapainya definisi sastra novel secara struktural yaitu “bahasa artistik fiktif naratif”, maka sebaiknya perumusan struktur dan pencarian unsur-unsur sastra novel mengikuti definisi tersebut.

Pertama, unsur ‘bahasa’, dari unsur ini kita dapat memulai dari tingkat satuan sintaksis berupa kalimat. Kita ketahui bahwa struktur kalimat dalam Bahasa Indonesia misalnya adalah terdiri dari Subyek, Predikat, Obyek, dan Keterangan (SPOK), maka pada tataran ini sebetulnya struktur sastra novel sebagai ‘bahasa’ tiada lain adalah juga SPOK. ‘Subyek’ dalam struktur ini tiada lain adalah yang dikenal sebagai ‘tokoh’ dalam struktur sastra novel yang dikenal secara umum, dan ‘keterangan’ adalah sebagai ‘latar’. Kita belum dapat mengidentifikasi unsur lainnya pada unsur novel menurut rumusan ilmuwan sastra terdahulu, sesuainya dengan unsur yang mana dari SPOK, tetapi jelas kita dapat menunjukkan bahwa ‘gaya bahasa’ tidaklah dapat dimasukkan ke dalam struktur kalimat berupa SPOK, dengan demikian ‘gaya bahasa’ berarti tidak dapat disejajarkan dengan unsur ‘tokoh’ dan ‘latar’.

Kemudian pada sintaksis di tataran paragraf terdapat dua unsur dari struktur bahasa yaitu ‘kalimat topik/pokok’ dan ‘kalimat penjelas/pendukung’. Berdasarkan ini maka struktur novel yang setingkat dengan paragraf adalah terdiri dari dua unsur tersebut, yang tentunya tidak bisa disejajarkan dengan struktur di tingkat kalimat yaitu SPOK. Hal ini menjadi evaluasi bagi penempatan unsur ‘tema’ yang memuat gagasan pokok yang disejajarkan dengan unsur ‘tokoh’ pada rumusan struktur novel oleh ilmuwan sastra terdahulu. Tentunya di tingkatan kalimat juga memuat gagasan yaitu pada predikat, tetapi belum sebagai gagasan pokok atau bukan, karena bisa jadi ia hanya merupakan gagasan pendukung.

Kemudian pada sintaksis di tingkat wacana, ada banyak jenis struktur wacana, maka setiap struktur memiliki unsur-unsur yang berbeda, tetapi kita sudah diberikan batasan oleh definisi sastra novel secara struktural yaitu bahwa novel adalah sebagai ‘bahasa artistik fiktif naratif’, dari unsur-unsur yang melekat pada definisi sastra novel tersebut yang merujuk kepada wacana adalah unsur naratif. Tetapi agar sistematis kita sebaiknya tidak langsung meloncat ke pembahasan unsur naratif, karena kita sekarang sedang berada di pembahasan tentang unsur ‘bahasa’ pada definisi sastra novel.

Semua struktur bahasa yang kita kemukakan diatas adalah merupakan wujud lahiriah atau aspek material dari bahasa, adapun wujud batiniahnya adalah ‘makna’. Penelusuran kita terhadap bahasa lahiriah tiada lain adalah seiring sejalan dengan upaya pencarian terhadap makna. Secara struktural wujud lahiriahnya disebut dengan penanda (signifier) sedangkan maknanya disebut petanda (signified). Pencarian ‘makna’ pada sastra novel di unsur ‘bahasa’ pada definisinya adalah cukup bermula dari tataran kalimat yang memiliki struktur SPOK, kemudian meningkat di tataran paragraf yang memiliki gagasan pokok dan penjelas, dan meningkat lagi serta menemukan keutuhannya di dalam tataran wacana. Tegasnya, makna bahasa di dalam sastra novel terutama adalah pada satuan sintaksis yang langsung terkait dengan ‘makna yang bersosial’, yang berbeda dengan struktur morfem yang terkait dengan unsur ‘penggalan’ untuk membentuk ‘makna individual’, dan juga berbeda dengan struktur fonem yang terkait dengan bunyi terbuka (vokal) dan bunyi tertutup (konsonan) dan sebetulnya secara sufistik terkait dengan makna esensial atau hakikat yang tentunya tidak dapat dicapai dengan strukturalisme ataupun pendekatan ilmiah dan filsafat apapun lainnya, sehingga kita justru harus menyadari pendekatan sufistik sebagai yang akan mencerahkan bagi pendekatan ilmiah dan filsafat.

Makna dari setiap unsur kalimat dapat hadir setelah ia bersatu dengan unsur-unsur lainya di dalam sebuah kalimat, begitupun dalam paragraf dan wacana. Unsur bahasa pada definisi sastra novel adalah berkaitan dengan pemberian ‘makna’ pada ‘karya sastra novel’. Pemberian makna tesebut meliputi makna di tingkat kalimat yaitu makna yang dapat diungkapkan berkenaan subyek/pelaku, pekerjaan/predikat, obyek, maupun keterangan, begitupun seterusnya untuk tingkat paragraf dan wacana.

Kedua, unsur ‘artistik’, artistik adalah memiliki nilai seni (kbbi.web.id, 2017), jadi bahasa artistik adalah bahasa yang mengandung nilai seni. Sebagai memiliki nilai seni berarti ia merupakan sesuatu ‘kreasi yang indah’ atau ‘seni kreatif’, sehingga itulah kenapa kita dapat menerima definisi sastra yang dikemukan Semi (1998: 8) yaitu sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Dalam definisi ini Semi mengemukakan dua unsur dari definisi sastra yaitu unsur ‘bahasa’ dan unsur artistik yang kita rujuk sebagai ‘seni kreatif’. Tentunya definisi ini cukup untuk sastra tetapi belum cukup untuk sastra novel, yang masih harus ditambah dengan unsur ‘fiksi’ dan ‘naratif’.

Dengan pengertian bahasa artistik sebagai bahasa yang memiliki nilai seni, maka unsur artistik ini adalah merujuk kepada gaya bahasa pada stilistika atau ilmu gaya bahasa. Hal ini sejalan dengan Natawidjaya (dalam rumpunnektar.com, 2016) yang menyatakan apresiasi stilistika merupakan usaha memahami, menghayati, dan mengaplikasi gaya agar melahirkan efek artistik.

Jika pada unsur ‘bahasa’ pada definisi sastra novel aspek atau tepatnya wujud lahiriahnya adalah ujaran yang ditampilkan dalam bentuk tulisan, sedangkan wujud subtantifnya atau batiniahnya adalah ‘makna’; maka pada unsur ‘bahasa artistik’ wujud lahiriahnya adalah gaya bahasa dan adapun wujud batiniahnya adalah ‘sentuhan rasa’.

Berdasarkan pengertian bahasa artistik diatas maka unsur-unsur seni pada bahasa artistik adalah unsur-unsur yang terdapat dalam gaya bahasa pada stilistika. Sebetulnya unsur-unsur gaya bahasa itu terdapat mulai dari satuan fonem, morfem hingga sintaksis, tetapi dalam karya sastra novel terutama adalah di tingkat satuan sintaksis. Pertanyaannya adalah apakah perumusan Stilistika sudah memadai atau barangkali masih sama semrawutnya dengan Ilmu Sastra sehingga akan memerlukan waktu yang banyak bagi kita untuk menertibkannya dengan menemukan sistem dan unsur-unsurnya.

Ketiga, unsur ‘fiktif’, fiktif adalah sesuatu yang tidak nyata atau bersifat rekaan, dengan demikian ia bersifat imajinatif. Jadi apa sajakah unsur fiktif di dalam sastra novel itu, tentunya secara struktural yang konsisten adalah semua unsur yang terdapat dalam struktur bahasa dari sebuah karya sastra novel, baik aspek materialnya maupun subtantifnya yaitu meliputi SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan) di taraf kalimat, gagasan di taraf paragraf dan unsur-unsur dari wacananya, semuanya adalah fiktif. Jadi kita mengevaluasi unsur fiksi yang dikemukakan oleh ilmuwan sastra antara lain seperti pada Atmazaki (2007: 35):

“Struktur fiksi itu secara garis besar dibagi atas dua bagian, yaitu : (1) Struktur luar (ekstrinsik) dan (2) struktur dalam (instrinsik). Struktur luar (ekstrinsik) adalah segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut, misalnya faktor sosial ekonomi, faktor kebudayaan, faktor sosial-politik, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat. Struktur dalam (instrinsik) adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra tersebut seperti penokohan atau perwatakan, tema, alur (plot), pusat pengisahan, latar, dan gaya bahasa.”

Dengan perumusan unsur-unsur fiksi diatas, kita setuju dengan pembagian menjadi (1) Struktur luar (ekstrinsik) dan (2) struktur dalam (instrinsik), pembagian ini secara pendekatan struktural adalah struktur ekstrinsik yaitu menunjuk kepada parole sastra sedangkan struktur instrinsik yaitu menunjuk pada langue sastra. Selanjutnya tentunya secara struktural yang konsisten adalah semua unsur yang terdapat dalam struktur bahasa pada sebuah karya sastra novel semuanya adalah fiktif, baik aspek materialnya maupun subtantifnya yaitu meliputi SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan) di taraf kalimat, gagasan di taraf paragraf dan unsur-unsur dari wacananya. Begitupun unsur artistik serta sentuhan rasa yang dikandungnya, semuanya adalah fiktif.

Keempat, unsur ‘naratif’, penambahan unsur naratif pada definisi novel berarti novel adalah rangkaian kalimat yang bersifat narasi atau bersifat menguraikan (menjelaskan). Dalam makna lain naratif dikatakan sebagai prosa yang subjeknya merupakan suatu rangkaian kejadian, lengkapnya dijelaskan Wikipedia (2017) yaitu naratif (narrative) setidaknya mengandung unsur judul (title), orientasi (orientation), komplikasi (complication), dan resolusi (resolution). Dan ada yang menambahkan coda sebagai unsur naratif (materi4belajar, 2016), yaitu petuah atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks narasi tersebut yang diharapkan dapat diambil hikmahnya oleh pembaca. Dan dengan unsur naratif pada novel berarti kita telah membedakan struktur teks novel dengan struktur jenis-jenis teks lainya yaitu teks deskripsi, teks prosedur, teks laporan, dan teks eksposisi. Berdasarkan uraian ini, unsur ‘plot/alur’ adalah berada di wilayah unsur naratif dari definisi sastra novel.

4.  Pelaku Sastra Novel

Setelah perumusan struktur sastra novel dicapai sebagaimana diatas, meliputi semua unsur yang melekat pada definisinya yaitu bahasa, artistik, fiktif dan naratif, dan yang obyeknya secara utuh adalah berupa karya sastra novel, maka secara pendekatan struktural kita dapat sekarang mengarah kepada parole sastra atau pelaku sastra yang meliputi: 1) penulis dan 2) pembaca.

Jadi sebelumya pertama-tama kita menjadikan parole sastra sebagai perspektif untuk mendapatkan struktur sastra novel meliputi sistem tanda (langue) novel dan satuan-satuannya, maka selanjutnya secara pendekatan struktural tahapan berikutnya adalah kembali ke parole tetapi bukan lagi ditempatkan sebagai perspektif, namun ditempatkan sebagai sesuatu yang hendak ditemukan pemahaman atasnya, tegasnya menggunakan struktur sebagai perspektif untuk memahami parole sastra atau pelaku sastra.

Pemahaman atas parole sastra yang didasarkan pada struktur sastra novel antara lain meliputi: 1) ‘apa’ saja ‘makna’ yang hendak diberikan penulis kepada pembaca, yaitu sebagai hasil aktivitas yang diasumsikan berlangsung di qalbu penulis, 2) apa saja ‘konseptualisasi/cakrawala makna’ yang diberikan dan akan dapat tertangkap oleh pembaca berkenaan makna yang dikehendaki penulis tersebut, yaitu sebagai hasil aktivitas yang diasumsikan berlangsung di pikiran penulis, 3) apa saja ‘pembahasaan/penulisan tertulis wacana atau teks’ yang sesuai dengan konseptualisasi makna dimaksud, yaitu sebagai hasil aktivitas perilaku lahiriah penulis berupa karya sastra novel. Lebih jauh, kajian strukturalisme atas parole ini dapat diarahkan kepada ‘proses’ dari masing-masing aktivitas diatas sehingga dapat menghasilkan makna, memberikan konseptualisasi, dan melakukan penulisan. Dengan mengamati wilayah parole ini, kita dapat menegaskan bahwa wilayah parole pertama-tama adalah wilayah psikologis pelaku bagi sastra, sebab kehendak, konseptualisasi dan perilaku lahiriah adalah merupakan unsur-unsur kepribadian penulis. Wilayah parole yang lebih luas dapat meliputi sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial penulis dan lain sebagianya, tetapi prinsipnya adalah dilakukan pemilahan atau aktivitas selektif agar misalnya dalam kajian sejarah penulis, tidak memasukkan semua unsur sejarah penulis tetapi hanya yang dianggap berkaitan dengan makna dan pemaknaan karya sastra novel yang dibuatnya, begitupun kajian psikologi dan yang lainnya.

Begitupun parole berupa pembaca, ia akan seiring sejalan dengan penulis, jika penulis bermaksud atau menghendaki menyampaikan makna subtantif tertentu, maka pembaca yang baik akan mendapatkan makna tertentu itu secara subtantif pula di semua taraf bahasa, dan pembaca juga akan dapat menangkap konseptualisasi/cakrawala maknanya, dan pembaca juga akan dapat menemukan pembahasaannya sebagai yang sejalan. Selanjutnya ketika pertama-tama kita sudah menegaskan pencapaian makna tertentu secara subtantif oleh pembaca sebagaimana yang dihendaki penulis meskipun dapat mengalami perbedaan intensitas, barulah kita dapat berbicara tentang sejarah pembaca atau aspek-aspek lainnya pada pembaca, tetapi dilakukan secara selektif agar dapat ditemukan yang sejalan dengan makna subtantif pada karya sastra novel yang dibaca.

5.  Pemahaman dan Penafsiran atas Fenomena Umum Sastra Novel

Dengan dicapainya tahapan pemahaman strukturalisme terhadap sastra novel meliputi langue dan parole sastra maka berarti pemahaman keduanya secara utuh sudah merupakan pemahaman atau penafsiran yang utuh terhadap langage sastra (fenomena umum sastra). Lebih jauh bahkan pemahaman itu dapat digunakan untuk mengintervensi semua gejala yang muncul dalam fenomena umum yang terkait dengan sastra novel yang dihadapi pembaca dan penulis yang tersebar dan bercampur aduk di dalam karya yang ditulis atau dibaca.

6.  Pelaku Fiktif Sastra Novel berupa Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam sastra novel adalah pelaku yang berada di dalam karya sastra novel. Sebagaimana diketahui, pendekatan struktural menggunakan linguistik Ferdinand de Saussure sebagai model untuk diterapkan melalui analogisasi kepada objek-objek kajiannya selain bahasa. Pada linguistik, pelaku adalah parole. Parole bahasa adalah pelaku yang menghasilkan ujaran, kemudian dari ujaran didapatkan sistem tanda dan satuan-satuannya atau langue, kandungan lebih detil dari langue adalah pada setiap satuannya ditemukan unsur-unsur dan sistemnya, kemudian barulah langue sedemikian digunakan untuk memahami parole.

Berdasarkan uraian diatas, analogisasi parole pada bahasa kepada pelaku yang terdapat dalam karya sastra novel adalah dengan menemukan sebagai pelaku apakah ia di dalam karya sastra novel tersebut. Pada tataran kalimat, apakah aktivitasnya atau apakah predikat (kata kerja) dan noun (kata benda) yang diberikan penulis kepadanya. Jika ia sebagai pelaku bahasa di dalam karya sastra novel itu maka berarti ia akan dapat dipahami dengan menggunakan langue bahasa. Begitupun jika ia pelaku ekonomi, sosial, sejarah, psikologi, politik, dan lain-lain maka tokoh tersebut hanya akan dapat dipahami melalui sistem tanda dari masing-masing wilayah keilmuan tersebut. Kemudian di tataran paragraf, apakah gagasan utama yang diberikan penulis untuk tokoh tersebut. Selanjutnya ditataran wacana, bagaimanakah penulis menempatkan tokoh tersebut dalam alur naratif.

Selanjutnya penokohan, sesuai dengan uraian diatas maka penokohan adalah pemberian aktivitas dan noun atau kata sifat terhadap tokoh pada sebuah sastra novel oleh penulis.

Kajian terhadap tokoh dan penokohan sastra novel dengan demikian adalah sebanyak atau seluas aktivitas yang dilakukannya dalam suatu karya sastra novel ditambah sebanyak kata benda dan kata sifat yang dilekatkan kepadanya. Pertama-tama kajian itu adalah bersifat ‘makna’ sejauh yang diberikan melalui bahasa artistik fiktif naratif. Kemudian untuk tujuan kajian yang spesifik dan interdisipliner maka perlu dipilih aktivitas tertentu saja, misalnya hanya aktivitas psikologis saja atau salah satu bidang lainnya.

Hingga di sini, pembahasan tentang Rumusan Sastra dan Sastra Novel dalam tataran kajian umum secara Pendekatan Strukturalisme sudah dirasa cukup, begitupun untuk bidang “sistem sastra”. Selanjutnya kajian spesifik dapat terus dikembangkan untuk setiap bidang dari kajian sastra umum diatas, baik untuk bidang “sistem sastra” itu sendiri dan terutama terhadap bidang “pelaku sastra” seperti “evaluasi kajian psikologi sastra”, atau bidang lainnya “evaluasi kajian sosiologi sastra”. Berikut ini kami bermaksud memulai dengan kajian terhadap bidang “pelaku sastra” berupa “evaluasi konstruktif atas kajian psikologi sastra”, hal ini lantaran psikologi sastra hadir cukup dominan dalam kajian sastra.

C. Rumusan Khusus Sastra dan Sastra Novel Bidang Psikologis dalam Pendekatan Strukturalisme

1.   Kajian Psikologi Sastra sebagai Kajian di Wilayah Pelaku Sastra

Kehadiran kajian psikologi terhadap sastra nampaknya sangat dominan dalam pengajaran ilmu sastra, sepertinya hal ini terjadi adalah karena selama ini sastra belum menemukan perumusannya yang kongkrit sedangkan psikologi telah mencapai kegemilangan perumusannya atau jauh lebih maju sehingga mudah sekali bagi psikologi untuk masuk ke wilayah sastra sebelum sastra menemukan jati dirinya sendiri sebagai ilmu yang utuh bahkan seakan-akan sastra sangat bergantung kepada psikologi. Endraswara (2008: 1) mengemukakan:

“Dari realita, sebenarnya dapat diduga pemunculan psikologi sastra adalah setelah teori-teori penelitian intrinsik sastra menemui “jalan buntu”. Maksudnya, penelitian intrinsik tidak mampu menjawab seluruh masalah sastra.

Pada bagian ini, yang perlu dikemukakan justru asal-usul kemunculan psikologi sastra itu nampaknya bukan dari ahlis sastra. Orang di luar sastra biasanya jauh lebih memperhatikan masalah inheren sastra. Akibatnya, sisi-sisi tertentu dari sastra, mereka perdalam hingga sampai ada gagasan psikologi sastra. Sementara “orang dalam” sendiri sering terlalu asyik dengan penelitian yang lain.

Dugaan sementara, kemungkinan besar sejak Freud sebagai dokter banyak membaca sastra sehingga muncul psikologi sastra.”

Kemudian Hardjana (dalam Wiyatmi, 2011: 23) mengemukakan:

Latar belakang munculnya pendekatan psikologi sastra disebabkan oleh meluasnya perkenalan sarjana-sarjana sastra dengan ajaran-ajaran Freud yang mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris, terutama The Interpretation of Dreaming (Penafsiran Mimpi) dan Three Contributions to a Theory of Sex (Tiga Karangan tentang Teori Seksualitas) dalam dekade menjelang perang dunia.

Para ilmuwan sastra menempatkan psikologi sastra sebagai kajian interdisipliner seperti yang dikemukakan Endraswara (2008: 16) “Saya berani mengatakan bahwa psikologi sastra memang ilmu. Dia adalah bagian ekstrinsik sastra, yakni sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra.”

Dalam pandangan strukturalisme, kajian psikologi sastra adalah termasuk kajian di wilayah parole sastra atau pelaku sastra. Kajian ini dilakukan setelah kajian atas ‘sistem sastra’ dicapai sesuai definisi sastra yang kita rumuskan yaitu sebagai “bahasa artistik” yag berarti berada di wilayah disiplin ilmu bahasa atau linguistik. Pendekatan strukturalisme memungkinkan kajian psikologi sastra namun haruslah setelah penemuan dan perumusan struktur sastra itu sendiri secara linguistik artistik, dan kajian psikologi sastra ditempatkan spesifik sebagai kajian terhadap bidang psikologis saja yang terdapat pada parole sastra atau pelaku sastra dan disejajarkan dengan kajian-kajian ilmu lainnya selain linguistik yaitu misalnya sosiologi sastra dan antropologi sastra. Tegasnya, pendekatan strukturalisme tidak saja memungkinkan kajian psikologi bagi sastra, justru tujuan strukturalisme merumuskan sistem sastra adalah agar dengan sistem tersebut setelah mencapai makna akhirnya dapat digunakan untuk memahami fenomena parole sastra atau pelaku sastra. Dengan demikian dalam pendekatan strukturalisme pada tahap memahami fenomena parole sastra ini, pelaku sastra menjadi sesuatu yang dekat dalam pandangan pengamatan struktural, sebagai bagian yang mengalir yaitu setelah tahapan pengamatan dan perumusan terhadap sistem maka selanjutnya mengalir ke wilayah parole atau pelaku. Dengan demikian, penyebutan istilah intrinsik dan ekstrinsik ataupun disiplin dan interdisiplin bagi strukturalisme hanyalah persoalan tahapan, yaitu wilayah yang tadinya sebagai ekstrinsik di tahapan pertama pada tahap berikutnya justru menjadi intrinsik sebab pandangan pengamatan kemudian sedang diarahkan kepadanya, jadi strukturalisme lebih memilih untuk menggunakan istilah intrinsik dan ekstrinsik yang dikaitkan dengan dengan istilah “tahapan”, sehingga ia tidak menjadi intrinsik dan ekstrinsik selama-lamanya di semua tahapan pendekatan. Dengan menerapkan istilah ekstrinsik yang kekal misalnya, maka akan menempatkan obyek kajian sebagai sesuatu yang jauh atau terpisah atau diluar dari aspek-aspek ekstrinsik secara berkepanjangan dan kekal pula, sehingga misalnya psikis pembaca ditempatkan secara jauh atau “terpisah” dari bacaannya, padahal pembaca ketika membaca justru mengalami “keterhubungan” dengan bacaannya bahkan dapat mencapai tingkat ‘lenyapnya kesadaran’ di dalam atau bersama bacaan. Asumsi dari lenyapnya kesadaran ini adalah karena pembaca secara tidak sadar telah ‘berada’ dalam ‘sistem makna’ dari suatu bacaan dan pembaca tersebut kemudian secara tidak sadar menggunakan keberadaannya itu untuk memahami psikis pelaku pada bacaan. Dengan pemahaman seperti ini maka secara struktural tidak akan ditemukan kondisi menjemukan seperti yang dikemukakan Minderop (2011: 3) :

Terkait dengan psikologi, terutama psikologi kepribadian, sastra menjadi suatu bahan telaah yang menarik karena sastra bukan sekedar telaah teks yang “menjemukan” tetapi menjadi bahan kajian yang melibatkan perwatakan/kepirbadian para tokoh rekaan, pengarang karya sastra, dan pembaca.

Kondisi ‘menjemukan’ seperti yang dikemukakan Minderop diatas tidak dapat ditempatkan atau ditemukan dalam pendekatan struktural sebab sebagaimana sudah dijelaskan, secara struktural pembaca bahkan sudah dapat lenyap secara kesadaran bersama bacaan. Dalam pembacaan novel sastra misalnya, ketika membaca seorang pembaca sudah dapat lenyap dalam ‘makna artistik fiktif naratif’ sebelum ia kemudian dapat menangkap kesadarannya untuk tujuan pengungkapan, atau sebelum ia bahkan mengetahui istilah-istilah atau konsep-konsep dalam psikologi seperti perwatakan, kepribadian, id, ego, superego dan lain-lain. Kondisi menjemukan itu nampaknya terjadi karena pandangan ilmuwan sastra terhadap sastra adalah sebagai aspek material bahasa yang terdiri dari huruf, kata, kalimat, paragraf dan teks, dan bukannya sekaligus kepada aspek subtantifnya sebagaimana yang kita peroleh melalui pendekatan strukturalisme yaitu sebagai ‘makna yang menyentuh rasa’.

2.  Evaluasi Definisi Psikologi Sastra

Atkinson (dalam Minderop, 2011: 3) menjelaskan psikologi berasal dari kata Yunani psyche, yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia. Kemudian Walgito (dalam Wiyatmi, 2011: 7) mengemukakan bahwa psikologi merupakan suatu ilmu yang meneliti serta mempelajari perilaku aktivitas-aktivitas yang dipandang sebagai manifestasi dari kehidupan psikis manusia.

Selanjutnya psikologi sastra, Endraswara (2008:16) mengemukakan psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Kemudian Wellek dan Warren (dalam Wiyatmi, 2011: 28) mengemukakan bahwa psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca.

Berkenaan dengan uraian diatas, pada Endraswara yang dikemukakan adalah tempat disiplin psikologi sastra di dalam kajian sastra yaitu sebagai interdisiplin. Sedangkan pada Wellek dan Warren terdapat kerancuan pada pengertian, sebab tentunya itu bukanlah rumusan dari sebuah pengertian tetapi adalah wilayah kajian dari psikologi sastra. Tidak terungkapnya definisi psikologi sastra dan kerancuannya adalah berakar dari belum tercapainya definisi dari sastra itu sendiri sebelum digabungkan menjadi psikologi sastra.

Sebagai evaluasi atas definisi diatas, psikologi sastra secara struktural adalah dengan mengacu pada pengertian psikologi dan pengertian sastra secara bersamaan. Karena pengertian psikologi adalah “ilmu yang meneliti serta mempelajari perilaku aktivitas-aktivitas yang dipandang sebagai manifestasi dari kehidupan psikis manusia”, sedangkan pengertian sastra adalah “bahasa artistik”, maka berarti Psikologi Sastra adalah ilmu yang meneliti serta mempelajari perilaku aktivitas-aktivitas yang dipandang sebagai manifestasi dari kehidupan psikis manusia untuk menghasilkan ataupun menerima bahasa artistik, baik secara objektif di alam nyata serta secara fiktif yaitu di dalam karya sastra.

3.  Aliran Kajian Psikologi Sastra

Walgito (dalam Wiyatmi, 2011: 7) mengemukakan bahwa dalam psikologi, perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme dianggap tidak muncul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu. Dala hal ini perilaku atau aktivitas dianggap sebagai jawaban atau respon terhadap stimulus yang mengenainya.

Selanjutnya Branca (dalam Wiyatmi, 2011: 7-8) mengemukakan bahwa dalam psikologi, perilaku manusia dibedakan menjadi dua, yaitu perilaku refleksif dan nonrefleksif. Perilaku refleksif terjadi secara spontan, misalnya kedipan mata bila kena sinar, gerak lutut jika kena sentuhan palu, menarik jari jika terkena api, dan sebagainya. Perilaku refleksif terjadi dengan sendirinya. Dalam hal ini stimulus yang diterima oleh individu tidak sampai ke pusat susunan syaraf atau otak, sebagai pusat kesadaran atau pusat pengendalian perilaku manusia. Kondisinya berbeda dengan perilaku nonrefleksif yang dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Setelah stimulus diterima oleh reseptor, kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi respon yang disebut proses psikologis. Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis atau perilaku psikologis.

Walgito (dalam Wiyatmi, 2011: 9) mengemukakan berdasarkan teori yang digunakan, dikenal berbagai jenis psikologi, yaitu (1) psikologi fungsional, (2) psikologi behaviorisme, (3) psikologi gestalt, (4) psikoanalisis, (5) psikologi humanistik, (6) psikologi kognitif. Jenis-jenis psikologi ini disebut juga sebagai aliran-aliran psikologi, dan disamping jenis-jenis psikologi ini dosenpsikologi.com (2017) juga memasukkan aliran strukturalisme, bahkan khasanahpioneerscom.wordpress.com (2012) menjelaskan posisinya sebagai aliran yang pertama dalam psikologi.

Berdasarkan uraian diatas, kajian psikologi sastra adalah kajian yang menggunakan salah satu aliran psikologi untuk meneliti obyek psikologi khusus yang terdapat pada sastra.

4.  Evaluasi Wilayah Kajian Psikologi Sastra

Wellek dan Warren (dalam Wiyatmi, 2011: 28) mengemukakan bahwa psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua studi proses kreatif. Yang ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan yang keempat mempelajari dampak sastra pada pembaca. Pengertian pertama dan kedua merupakan bagian dari psikologi seni, dengan fokus pada pengarang dan proses kreatifnya. Pengertian ketiga terfokus pada karya sastra yang dikaji dengan hukum-hukum psikologi. Pengertian keempat terfokus pada pembaca yang ketika membaca dan menginterpretasikan karya sastra mengalami berbagai situasi kejiwaan.

Sebagai evaluasi atas pandangan diatas, secara strukturalisme kita mendapatkan bahwa kajian psikologi sastra adalah sebagai kajian atas wilayah pelaku sastra. Pelaku sastra itu sendiri terdiri dari pelaku nyata dan pelaku fiktif. Pelaku nyata terdiri dari : 1) penulis atau pengarang dan 2) pembaca, sedangkan pelaku fiktif terdiri dari tokoh-tokoh yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan demikian wilayah kajian psikologi sastra adalah meliputi: 1) psikologi penulis, 2) psikologi pembaca, dan 3) psikologi tokoh dalam karya sastra.

5.  Psikologi Khusus dalam Kajian Psikologi Sastra

Walgito (dalam Wiyatmi, 2011: 8) membedakan cabang psikologi menjadi psikologi umum dan psikologi khusus. Psikologi umum meneliti dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas manusia yang tercermin dalam perilaku pada umumnya, yang dewasa, yang normal, dan yang berkultur. Sedangkan psikologi khusus meneliti dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia, dan dibedakan menjadi beberapa subjenis, yaitu : (1) psikologi perkembangan, yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua, (2) psikologi sosial, yang membicarakan perilaku atau aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi sosial, (3) psikologi pendidikan, yang khusus menguraikan kegiatan-kegiatan dan aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar, dan sebagainya, (4) psikologi kepribadian, yang secara khusus menguraikan tentang pribadi manusia, beserta tipe-tipe kepribadian manusia, (5) psikopatologi, yang secara khusus menguraikan keadaan psikis yang tidak normal (abnormal), (6) psikologi kriminal, yang secara khusus berhubungan dengan soal kejahatan atau kriminalitas, (7) psikologi perusahaan, yang berhubungan dengan persoalan perusahaan.

Secara struktural semua psikologi khusus diatas dapat digunakan untuk kajian psikologi sastra, tetapi yang banyak digunakan yaitu psikologi kepribadian, barangkali ada kaitannya dengan kematangan rumusan teori psikologi kepribadian yang dicapai oleh Sigmund Freud dan penerusnya melalui pendekatan atau aliran psikologi yang digunakannya yaitu psikoanalisis. Disamping psikoanalisis, psikologi kepribadian juga dikembangkan oleh aliran behaviorisme dan humanistik.

6.  Psikologi Kepribadian atas Sastra

a.  Evaluasi Definisi Kepribadian

Minderop (2011: 4) mengemukakan bahwa teori kepribadian mempertanyakan mengapa sekelompok individu merespon situasi yang sama yang mereka hadapi, dengan cara yang berbeda. Ada orang yang pemalu, ada yang demikian percaya diri, dan ada pula yang tenang. Beberapa pakar beranggapan bahwa faktor biologis dan genetik bertanggung jawab untuk masalah ini. Pakar lain berargumentasi bahwa pola pikir atau cara pikir kita untuk memahami diri sendirilah yang menjadi kunci atas pemahaman terhadap kepribadian kita. Perdebatan tentang hal ini tidak pernah usai, tetapi yang lebih penting bahwa kepribadian memang kompleks.

Santrock (dalam Minderop, 2011: 4) mengemukakan:

Banyak orang percaya bahwa masing-masing individu memiliki karakteristik kepribadian atau pembawaan yang menandainya. Pembawaan yang mencakup dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku merupakan karakteristik seseorang yag menampilkan cara ia beradaptasi dan berkompromi dalam kehidupan. Itulah yang disebut kepribadian.

Hilgard (dalam Minderop, 2011: 4) mengemukakan:

Kepribadian mengacu kepada pola karakteristik perilaku dan pola pikir yang menentukan penilaian seseorang terhadap lingkungan.

Krech dkk (dalam Minderop, 2011: 4) mengemukakan:

Kepribadian berarti kualitas nalar dan karakter seseorang yang terbentuk menjadi pola tertentu yang membedakannya dari individu yang lain.

Kepribadian adalah suatu konstruksi hipotesis yang kompleks. Kepribadian menjadi konstruksi hipotesis karena kita mengembangkannya melalui observasi tingkah laku. Kepribadian dikatakan kompleks karena kita mengasumsikan bahwa kepribadian terdiri dari kualitas nalar atau id, ego dan superego.

Dengan beragamnya pengertian dari kepribadian, Minderop (2011: 4) mengemukakan belum ada suatu teori yang sungguh-sungguh mampu menjawab kompleksitas kepribadian manusia secara komprehensif.

Belum adanya teori yang mampu menjawab kompleksitas kepribadian manusia secara komprehensif seperti dikemukakan diatas adalah disebabkan karena sejauh ini tidak ditemukan struktur kepribadian manusia yang utuh. Selanjutnya tidak ditemukannya struktur kepribadian manusia yang utuh menunjukkan belum ditemukannya wujud konkrit kepribadian sebagai objek pengamatan. Secara Strukturalisme kita menangkap wujud konkrit dari kepribadian adalah: aktivitas qalbu, aktivitas pemikiran dan aktivitas lahiriah manusia. Berdasarkan wujud konkrit kepribadian ini maka definisi kepribadian adalah bentuk individual aktivitas qalbu yang bertransformasi atau bermetamorfosis menjadi aktivitas pemikiran dan kemudian bermetamorfosis menjadi aktivitas lahiriah pada seseorang dalam penempatan dirinya sebagai anggota sosial.

b.  Evaluasi Struktur Kepribadian dalam Psikoanalisis

Walgito (dalam Wiyatmi, 2011: 11) mengemukakan bahwa Freud mengembangkan konsep id, ego, dan superego sebagai struktur kepribadian. Id berkaitan dengan ketidaksadaran yang merupakan bagian primitif dari kepribadian. Kekuatan yang berkaitan dengan id mencakup insting seksual dan insting agresif. Id membutuhkan pemenuhan segera tanpa memperhatikan lingkungan realitas secara objektif. Freud menyebutnya sebagai prinsip kenikmatan. Ego sadar akan realitas. Oleh karena itu, Freud menyebutnya sebagai prinsip realitas. Ego menyesuaikan diri dengan realitas. Superego mengontrol mana perilaku yang boleh dilakukan, mana yang tidak. Oleh karena itu Freud menyebutnya sebagai prinsip moral. Superego berkembang pada permulaan masa anak sewaktu peraturan-peraturan diberikan oleh orang tua dengan menggunakan hadiah dan hukuman. Perbuatan anak semula dikontrol orang tuanya, tetapi setelah superego terbentuk, maka kontrol dari superego sendiri.

Tingkah laku menurut Freud, merupakan hasil konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah faktor historis masa lampau dan faktor kontemporer (Minderop, 2011: 20).

Id (terletak di bagian tak sadar) merupakan reservoir pulsi dan menjadi sumber energi psikis. Ego (terletak di antara alam sadar dan taksadar) yang bertugas sebagai penengah yang mendamaikan tuntutan pulsi dan larangan superego. Superego (terletak sebagian di bagian sadar dan sebagian lagi di bagian taksadar) bertugas mengawasi dan menghalangi pemuasan sempurna pulsi-pulsi tersebut yang merupakan hasil pendidikan dan identifikasi pada orang tua (Minderop, 2011: 21).

Freud mengibaratkan Id sebagai raja atau ratu, ego sebagai perdana menteri dan superego sebagai pendeta tertinggi. Id berlaku seperti penguasa absolut, harus dihormati, manja, sewenang-wenang dan mementingkan diri sendiri; apa yang diinginkannya harus segera terlaksana. Ego selaku perdana menteri yang diibaratkan memiliki tugas harus menyelesaikan segala pekerjaan yang terhubung dengan realitas dan tanggap terhadap keinginan masyarakat. Superego, ibaratnya seorang pendeta yang selalu penuh pertimbangan terhadap nilai-nilai baik dan buruk harus mengingatkan si id yang rakus dan serakah bahwa pentingnya perilaku arif dan bijak (Minderop, 2011: 21).

Dalam hal ini melalui pendekatan strukturalisme kita mengevaluasi kategorisasi Sigmund Freud atas struktur kepribadian manusia yang ia nyatakan terdiri dari: Id, Ego dan Superego. Sebetulnya kategorisasi tersebut tidaklah konsisten dengan memasukkan superego, sebab superego tidaklah memiliki wilayah spesifik yang dapat dibedakan dengan Id dan ego, lantaran superego dapat menempati Id maupun ego. Dengan demikian Id dan ego sudah konsisten secara wilayah yaitu Id menempati qalbu (heart), dan ego menempati pikiran, sedangkan superego sebenarnya dimasukkan ke dalam kategorisasi struktur kepribadian manusia dengan pengkategorian sebagai hal-hal yang menentukan seseorang untuk berperilaku, tetapi luputnya perhatian terhadap wilayah masing-masing unsurnya akan berakibat pada inkonsistensi pemahaman terhadap manusia. Maka secara strukturalime dalam hemat kami “struktur kepribadian manusia” pada tataran teramati adalah terdiri dari qalbu (Id), pikiran (ego) dan perilaku lahiriah baik sebagai wilayah maupun sebagai aktivitas. Jika yang dimaksud superego oleh Sigmund Freud adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan, maka sebenarnya superego dengan pengertian itu di dalam strukturalisme adalah menunjuk kepada langue (sistem tanda) dan bukan kepada satuan tanda sebagaimana yang dapat diterima untuk Id dan ego. Sistem tanda adalah hubungan-hubungan yang terbentuk pada satuan tanda, jadi tentunya satuan tanda tidak sejajar dengan sistem tanda. Sehingga memasukkan superego ke dalam unsur pada struktur kepribadian sebagai yang setempat dengan Id dan ego adalah sebuah kekeliruan kategorik.

Kemudian kelanjutan dari penemuan unsur struktur kepribadian diatas kami juga hendak menegaskan analogisasinya dengan satuan tanda di dalam ilmu bahasa bahwa Id atau tepatnya qalbu adalah seperti fonem, ego atau pikiran adalah seperti morfem, dan perilaku lahiriah adalah seperti sintaksis. Tetapi untuk mencapai pemahaman ini kita tidak akan dapat dengan mudah menggunakan teknik bahasa yaitu dengan menyusun fonem menjadi morfem, dan menyusun morfem menjadi sintaksis. Untuk mencapai pemahaman tersebut, strukturalisme memiliki perangkat yang sangat fundamental yaitu valensi atau nilai. Maka melalui valensi kita dapat menganalogisasikan perubahan atau transformasi fonem menjadi morfem dan morfem menjadi sintaksis, pada strutktur kepribadian manusia adalah bahwa Id atau qalbu lah yang bermetamorfosis menjadi ego, dan kemudian ego bermetamorfosis menjadi perilaku lahiriah. Sebetulnya satuan kepribadian manusia ini tidak dapat dicapai dengan strukturalisme sendirian, tetapi setelah dicerahkan oleh pendekatan sufistik. Sufistik lebih terang dan mencerahkan filsafat dan ilmiah.

c.  Dinamika Kepribadian

Dengan ditemukannya satuan tanda kepribadian manusia yang konsisten seperti diatas, maka pergulatan sastra maupun intelektual seputar kendala penghubungan manusia dengan dunia dan Agama atau Tuhan, akan berakhir. Begitu juga dengan asumsi-asumsi bahwa terjadi pertempuran antara otak dengan qalbu, akan berakhir, karena yang terjadi adalah justru pertempuran dua atau beberapa keinginan di dalam wilayah Qalbu yang dibawa ke wilayah pikiran dan kemudian ke wilayah perilaku lahiriah. Berkenaan dengan hubungan Tuhan dengan dunia misalnya, bagaimana mungkin kita menjadikan hubungan Tuhan dengan dunia memiliki kendala. Bukankah semua yang ada di dunia ini adalah ciptaanNya?, apakah pantas kita mengatakan hubungan Pencipta memiliki kendala dengan ciptaanNya?, di dalam agama Islam misalnya Allah SWT memberikan bimbingan berupa Al Qur’an dan Hadits maka tentunya tidak pantas dikatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak memiliki hubungan dengan aktivitas umat agama Islam di dunia ini dalam berbagai bidangnya, hubungan antara manusia dengan dengan Allah SWT sebagai Tuhan, tentang kemungkinan manusia beragama untuk berpolitik, berekonomi, berteknologi dan lain sebagainya. Secara sufistik, sebelum wilayah qalbu bahkan masih ada wilayah lainnya yaitu wilayah ruh, wilayah rahasia, wilayah rahasia dari rahasia, wilayah tersembunyi dan wilayah tersembunyi dari yang tersembunyi. Untuk menemukan satuan-satuan ini dan jati diri hubungan-hubungannya itulah manusia pada akhirnya mesti menempuh pendekatan sufistik. Melalui sufistik kita menjadi mengetahui bahwa semuanya adalah energi yang mengalir bermetamorfosis ke wilayah-wilayah lahiriah dan juga sebaliknya dari wilayah lahiriah menuju ke wilayah batiniah.

Sejalan dengan itu Freud memandang manusia sebagai suatu sistem energi yang rumit. Menurut pendapatnya, energi manusia dapat dibedakan dari penggunaannya, yaitu aktivitas fisik disebut energi fisik dan aktivitas psikis disebut energi psikis. Berdasarkan teori ini Freud mengatakan, energi fisik dapat diubah menjadi energi psikis. Id dengan “naluri-naluri”nya merupakan media atau jembatan dari energi fisik dengan kepribadian (Minderop, 2011: 23).

Menurut Freud, Id atau alam bawah sadar merupakan subsistem dinamis dalam jiwa manusia yang mengandung dorongan-dorongan naluri/insting. Dorongan-dorongan itu menuntut pemenuhan, namun adanya budaya dan pendidikan (tuntutan norma kehidupan sosial) dorongan tersebut ditekan dan dipadamkan. Akan tetapi, dalam bentuk tersamar dorongan-dorongan itu terpenuhi melalui suatu pemuasan semu atau khayalan (fantasi) (Minderop, 2011: 23).

Menurut Freud, naluri yang terdapat dalam diri manusia bisa dibedakan dalam : eros atau naluri kehidupan (life instinct) dan destructive instinct atau naluri kematian (death instinct – Thanatos). Naluri kehidupan adalah naluri yang ditujukan pada pemeliharaan ego (Minderop, 2011: 23).

Dalam proses pemenuhan Id sering terjadi kecemasan (anxitas). Hilgar dkk (dalam Minderop, 2011: 28) mengemukakan, situasi apa pun yang mengancam kenyamanan suatu organisme diasumsikan melahirkan suatu kondisi yang disebut anxitas. Berbagai konflik dan bentuk frustasi yang menghambat kemajuan individu untuk mencapai tujuannya merupakan salah satu sumber anxitas. Ancaman dimaksud dapat berupa ancaman fisik, psikis, dan berbagai tekanan yang mengakibatkan timbulnya anxitas. Kondisi ini diikuti oleh perasaan tidak nyaman yang dicirikan dengan istilah khawatir, takut, tidak bahagia yang dapat kita rasakan melalui berbagai level.

Freud membedakan antara objective anxiety (kecemasan objektif) dan neurotic anxiety (kecemasan neurotik) Hilgar dkk (Minderop, 2011: 28). Hilgar dkk (dalam Minderop, 2011: 28) mengemukakan kecemasan objektif merupakan respon realistis ketika seseorang merasakan bahaya dalam suatu lingkungan. Sedangkan kecemasan neurotik berasal dari konflik alam bawah sadar dalam diri individu; karena konflik tersebut tidak disadari orang tersebut tidak menyadari alasan dari kecemasan tersebut.

Dalam kaitan uraian diatas dengan sastra, Endraswara (dalam Minderop, 2011: 24) mengemukakan pendapat Freud bahwa teks sastra memang membuka kemungkinan guna mengungkapkan keinginan terpendam dengan cara yang dapat diterima oleh kesadaran. Pendapat ini mengisyaratkan bahwa penelitian psikologi sastra sedapat mungkin mengungkap jiwa yang terpendam itu.

d.  Mekanisme Pertahanan dan Konflik

Berkenaan dengan mekanisme pertahanan dan konflik kita mengambil pendapat Freud bahwa, apabila kebutuhan seseorang tidak terpenuhi maka dia akan mempertahankan dirinya. Freud menggunakan istilah Mekanisme Pertahanan Diri (Defence Mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri merupakan bentuk penipuan diri (deebacalah.blogspot.co.id, 2014).

Beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu, terutama para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan. Dari mekanisme pertahanan diri berikut, diantaranya dikemukakan oleh Freud, berikut beberapa istilahnya (deebacalah.blogspot.co.id, 2014): Represi (Repression), Kompensasi (Compensation), Konversi (Conversion), Penyangkalan (Denial), Memindahkan (Displacement), Disosiasi (Dissociation), Fantasi (Fantasy) atau Khayalan (Image), Identifikasi (Identification), Introyeksi (Introjection), Negativisme (Negativism), Proyeksi (Projection), Rasionalisme (Rationalization), Pembentukan Reaksi (Reaction Formation), Regresi (Regression), Sublimasi (Sublimation), Menghapuskan (Undoing), dan Simpatisme.

***

DAFTAR PUSTAKA

Atmazaki. 2007. Ilmu Sastra, Teori dan Terapan. Padang: UNP Press.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Minderop, Albertine. 2011. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Semi, Atar. 2007. Anatomi Sastra. Padang. Angkasa Raya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s