Metamorfosis Tanda dalam Islam Kaffah – Sebuah Medium bagi Kebangkitan Islam

8 Desember 2017

Cover

Abstraksi

Diperlukan ‘sistem’ pertama-tama yang harus diciptakan sebelum ‘tindakan’, atau harus ada yang fokus ke ‘penciptaan/penemuan sistem’ dan bukannya semua hanya gabung dalam tindakan untuk mencapai tujuan. Sistemlah yang akan menjadi medium metamorfosis harapan menjadi pemikiran dan pemikiran menjadi aktivitas lahiriah dan bergulir menjadi produk, manfaat, efek, dampak dst. Umat Islam kehilangan sistem yang dapat menjadi medium kebangkitan, jangankan bangkit bahkan tidak mampu bermetamorfosis dari harapan menjadi pemikiran yang kokoh, apalagi ke aktivitas lahiriah, apalagi ke produk dst, kenapa tidak bisa karena tidak memiliki sistem yang memungkinkan dan memampukannya untuk bermetamorfosis apalagi bermetamorfosis sempurna, tanpa sistem sebagai medium semua sendi-sendi metamorfosis akan terputus, semua sendi-sendi Islam terputus satu sama lain dan hasilnya adalah Islam yang tercerai berai dan kehilangan perspektif. Apakah ada yang bisa diwujudkan dengan kondisi Islam seperti itu, walaupun kita menginginkan bisa tetapi percayalah secara Sunnatullah (kausalitas) jawabannya adalah ‘tidak’.

Jadi sistem atau medium seperti apakah yang sedang kita bicarakan?, kita hanya dapat menemukan sistem itu jika kita memiliki perspektif yang sesuai, Rasulullah SAW ketika lahir yang diucapkan beliau adalah ‘Ya Ummati’ atau wahai umatku, di dalam Islam ‘umat’ itu adalah sebagai ‘pelaku’, ilmu ilmiah yang terkuat dalam wilayah ilmu sosial adalah linguistik, dan pendekatan yang paling konsisten di wilayah filsafat adalah strukturalisme, di dalam linguistik dan strukturalisme perspektif yang digunakan tiada lain adalah ‘pelaku’ yang dalam ilmu bahasa atau linguistik disebut sebagai ‘parole’. Dari parole, ilmu bahasa menemukan ‘ujaran’, dari ujaran ilmu bahasa berhasil menemukan ‘sistem’ dan satuan-satuannya lengkap dengan unsur dan struktur dari masing-masing satuan itu untuk mencapai ‘makna’. Kemudian sistem itulah yang digunakan untuk memahami ‘pelaku’. Singkatnya, ketika diterapkan pada Islam adalah pelaku Islam itu terdiri dari 1) umat yang dilindungi 2) praktisi dan official 3) ilmuwan ilmiah dan filsafat 4) ulama 5) awliya. Jadi apa sajakah aktivitas dari masing-masing pelaku ini, apakah terkendala atau tidak, apakah pelaku yang satu terhubung dengan yang lain, Umat Islam sekarang mulai bersatu? Jawabnya ya sebab umat Islam sudah mulai melihat kebutuhannya tetapi baru kebutuhan sepotong-sepotong di tingkat umat yang dilindungi, tetapi baiklah sebagai gambaran : apakah ada praktisi dan regulasi atau administrasi untuk mewujudkan kebutuhan Palestina misalnya seperti administrasi internasional untuk mewujudkan ‘brown area’ untuk memenuhi kebutuhan Israel, apakah ada ilmuwan Islam se Indonesia atau sedunia yang link atau terhimpun dalam satu ikatan dan berpikir objektif tentang perumusan administrasi semacam itu dan bagaimana mewujudkannya melalui praktisi Islam, dan seterusnya mencapai pencerahan oleh ulama dan wali Allah. Jawabannya adalah belum ada. Kebutuhan Palestina belumlah konkrit di hadapan kita, sehingga kita terhenti dengan aktivitas dalam bentuk demo dan pengiriman dana misalnya. Turki yang sebetulnya mampu mengirimkan pasukan tenggelam dalam keterbatasan dukungan yang setaraf dari negara-negara Islam lainnya, sehingga maju sendirian akan konyol juga. Tetapi jika ada hubungan yang dapat dibangun untuk menghubungkan semua pelaku dalam Islam di berbagai tingkatan baik di Indonesia hingga dunia, maka Turki tidak akan merasa sendirian. Turki sudah mengumpulkan kepala negara, tetapi itu barulah tingkatan official. Dan kondisinya, official/pemerintah di negara-negara Islam sudah berabad-abad terputus dengan kalangan/lapisan umat berupa ilmuwan. Apakah Islam memiliki ilmuwan? Jawabnya ada, tetapi tidak berfungsi karena memang tidak difungsikan untuk menyelesaikan masalah umat atau untuk dapat membuat produk ilmu lalu dapat digunakan oleh praktisi Islam membuat peralatan yang dibutuhkan umat, atau merumuskan administrasi dan UU untuk kemaslahatan umat, buktinya semua produk teknologi strategis di Indonesia saja dari aseng dan asing, buktinya UU di Indonesia sekarang dalam kondisi obrak-abrik, semua penelitian hebat anak bangsa tidak diberikan paten yang dapat menjadikannya memiliki manfaat yang seluas-luasnya bagi kemaslahatan umat, semua profesi anak bangsa yang Islam tidak direpresentasikan sebagai aktivitas Islami tetapi hanya sebagai aktivitas duniawi dan nasionalis sehingga terputus dari gambaran umum tentang inilah Islam dan aktivitas Islami umatnya, dan lain-lain. Dan terakhir, tidak ada hubungan yang cukup dengan sumber pencerahan Islam yaitu sufistik. Jadi di dalam medium kebangkitan Islam semua lapisan umat harus link satu sama lain di semua tingkatan geografis dengan sistem universal yang sama atau serupa agar sejalan dan dapat mengatasi atau tidak banyak kendala.

Islam ‘tanpa sistem’, akan semakin lemah ketika dihadapkan dengan musuh yang kuat.

Sebaliknya Islam ‘dengan sistem’, akan semakin kuat ketika dihadapkan dengan musuh yang kuat atau lebih kuat.

Hal inilah yang sesungguhnya diingatkan oleh Imam Ali ra, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik”.

Diantara kondisi sebagian umat Islam adalah 1) mereka tidak terhubung dengan semua jenis pelaku dalam Islam, dan 2) mereka terhubung dengan jenis-jenis pelaku Islam secara kabur/ragu. Kedua kondisi ini diakibatkan dan sekaligus mengakibatkan hal yang sama, yaitu kehilangan perspektif. Rentetan selanjutnya adalah ketika perspektif hilang, maka sistem akan hilang/melenceng, dan ketika sistem hilang maka pemahaman dan tindakan untuk/terhadap pelaku secara sesuai akan hilang. Maka terjadilah berbagai kegiatan yang tidak sistematis, tidak meningkat atau salah sasaran.

Contoh dari kondisi pertama adalah, sebagian umat Islam baik individu maupun kelompok tidak terhubung dengan sufistik. Sufistik hadir untuk mewujudkan cinta Rasulullah SAW kepada umatnya sebagaimana sabda beliau, “Ya Ummatii” tentunya di semua tingkatan. Kondisi pertama ini akan menyebabkan seseorang atau organisasi Islam kehilangan perspektif yaitu harusnya matanya atau telinganya digunakan untuk meneliti kebutuhan riil umat Islam, yang terjadi justru untuk meneliti kebutuhan dirinya atau kelompoknya. Oleh karena itu sistem yang dibuatnya justru adalah untuk dapat mewujudkan kebutuhannya/kelompoknya, dan seterusnya. Tanpa sufistik, sangat mudah sekali bagi syaitan untuk menyimpangkan perspektif. Artinya setiap organisasi Islam yang belum terhubung dengan sufistik tidak akan dapat berperan dalam kebangkitan Islam meskipun mereka menginginkannya. Contoh lainnya adalah ada umat yang tidak terhubung dengan pelaku ilmiah dan filosofis, akibatnya juga fatal, yaitu Islam tidak mampu menciptakan berbagai pemikiran dan peralatan yang dapat bermanfaat bagi praktisi Islam, akibat selanjutnya yaitu Islam tidak memiliki praktisi yang memadai.

Contoh kondisi kedua adalah, ketika dua/lebih organisasi Islam bekerjasama untuk tujuan tertentu, mereka hadir dengan menampilkan sistem masing-masing yang dalam organisasi masing-masing. Harusnya terlebih dahulu mereka menyepakati/ menciptakan sistem yang universal yang dapat digunakan untuk bersama. Penciptaan sistem bersama itu tidak mudah, untuk Islam harus melalui kajian ilmiah, filosofis hingga sufistik, tetapi kalau tidak dirumuskan/ditemukan/diciptakan sebenarnya tidak ada kerjasama yang betul-betul kerjasama, yang ada hanyalah berkumpulnya dua orang atau dua/lebih organisasi dengan tujuan masing-masing yang secara umum adalah berbeda-beda, dengan demikian jangankan untuk kebangkitan yang terjadi adalah masing-masing individu/organisasi/negara semakin merasa unggul dengan dirinya/kelompoknya.

Karena penciptaan sistem bersama atau yang bersifat universal itu tidak mudah, bagi yang sudah menemukan kewajibannya adalah berinisiatif untuk menawarkannya. Diatas sudah dikemukakan dan sedikit diperlihatkan bahwa ilmu sosial yang terkuat adalah Linguistik sehingga dapat dikatakan bahwa jika ada orang yang membantah bahwa di dalam bahasa itu menurut Linguistik terdapat satuan fonem, morfem, dan sintaksis, atau bahwa dengan bahasa seseorang dapat meyampaikan makna kepada yang lain, berarti sama artinya ia juga membantah temuan-temuan di bidang ilmu eksakta seperti membantah bahwa di komputer terdiri dari software dan hardware, bluetooth dapat mengirimkan data tanpa kabel ke komputer melalui cahaya biru, TV dapat dihidupkan dan diganti channelnya dengan remote yang menggunakan cahaya merah infra red, dan lain-lain. Selanjutnya di wilayah filsafat pendekatan yang paling konsisten adalah strukturalisme, maka membantah strukturalisme berarti juga membantah linguistik karena strukturalisme berakar dari analogisasi atas linguistik kepada objek yang lain, sedangkan kalau umat Islam membantah linguistik berarti ia membantah seluruh ilmu pengetahuan ilmiah, padahal ilmu pengetahuan ilmiah tiada lain adalah subtansi dari kausalitas, dan adapun kausalitas dalam Islam adalah dikenal sebagai Sunnatullah. Lalu apa hubungannya dengan sufistik, yaitu bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki dua jenis Rahmat : 1) Rahmat Sunnatullah, yaitu rahmat yang hanya dapat dicapai melalui sebab akibat atau kausalitas, dan 2) Rahmat Penyingkapan, yaitu rahmat yang dapat diperoleh tanpa kausalitas tetapi hanya diberikan kepada para Rasul, para Nabi, para WaliNya. Maka berarti Rahmat Penyingkapan melebihi kemampuan Rahmat Sunnatullah, sehingga sufistik berarti akan lebih mengetahui ketimbang ilmuwan tentang ilmiah itu sendiri, artinya sufistik akan dapat mencerahkan pendekatan ilmiah dan filsafat sepanjang waktu. Jadi apakah kita dapat membantah kehadiran sufistik, barangkali kita belum menemukan wujud sesungguhnya dari sufistik sehingga sebagian ormas Islam masih belum terhubung dengannya.

Keberadaan umat Islam pada umumnya adalah berada pada Rahmat Sunnatullah, artinya tanpa menciptakan alat secanggih atau melebihi kecanggihan yang dimiliki Israel baik secara alat atau bisa juga lebih canggih secara sistem, maka Islam tidak akan dapat menghentikan Israel dan negara-negara yang pendukungnya. Dan jika umat Islam mencoba menghadapinya dengan cara-cara yang lain, berarti ia mencoba menghadapinya dengan cara-cara yang kosong. Bahkan master sufi sekalipun seperti Syaikh Ibn ‘Arabi mengatakan, “besi hanya dapat dilawan dengan besi”. Turki dan Pakistan memiliki alat secanggih Israel dan sekutunya tetapi di dunia Islam negara ini tidak didukung oleh sistem yang dapat menghubungkannya dengan negara Islam lainnya seperti Israel dapat terhubung dengan Amerika sehingga dapat melakukan hal-hal di wilayah taktis dan bukan sekedar di wilayah politis. Jadi bagaimana agar umat Islam dapat memiliki alat secanggih itu atau sistem secanggih itu ….. jawabannya kembali kepada uraian kita diatas, yaitu dengan menggunakan sistem yang universal bagi Islam, yang meliputi semua pelaku Islam, sehingga semua pelaku akan beraktivitas sesuai jenisnya secara terhubung satu sama lain, sehingga objek atau produknya akan dihasilkan secara konkrit, di tempat dan di waktu yang direncanakan, dan seterusnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s