C – PENDEKATAN DAN KAJIAN

M. Khairansyah
22 Mei 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim

Pendekatan ini terdiri atas beberapa tahapan, yang menunjukkan proses dan tingkatan pengembangan rumusan dan kemungkinan penerapannya.

Tahapan 1

Pada tahapan 1 dicapai rumusan Hermeneutika (Tafsir) Strukturalistik sejauh pemahaman yang mungkin atas Linguistik Umum karya Ferdinand de Saussure, dan penerapan awalnya atas Tempat Kediaman dan Amsal Al Qur’an.

Tahapan 1 ini adalah Skripsi S1 penulis di Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung Jawa Barat, yaitu dalam upaya memahami Amsal Al Qur’an dalam Pendekatan Hermenutika (Tafsir) Strukturalistik, sehingga ia disajikan menyatu dengan kajian atas Amsal Al Qur’an.

Tahapan 2

Dalam rangka penerapannya untuk memahami Al Qur’an, sebagaimana yang telah kita awali pada Tahapan 1, maka diperlukan pengembangan rumusan pendekatan Hermeneutika (Tafsir) Strukturalistik yang dicapai pada Tahapan 1 diatas dengan cara memadukannya dengan rumusan yang ada dalam khazanah Islam.

Sekilas tentang pengembangan rumusan pendekatan Hermeneutika (Tafsir) Strukturalistik,yaitu bahwa di saat pencapaian Tahapan 1 berupa Kajian atas Amsal Al Qur’an kami menemukan batas kemampuan Hermeneutika (Tafsir) Strukturalistik untuk melakukan penafsiran atas Amsal Al Qur’an. Menurut hemat kami batas kemampuan itu juga akan dialami oleh berbagai pendekatan ilmiah dan filosofis lainnya sebagai yang sama-sama bertumpu pada objektivitas (lahiriah dan abstrak) dan pemikiran. Batas kemampuan itu adalah : 1) Kita tidak dapat menemukan konten spiritual misalnya yang terkandung Amsal Al Quran, 2) Bahwa rumusan Amsal Al Qur’an yang kita dapatkan melalui pendekatan Hermeneutika Strukturalistik sama sekali tidak berpotensi merubah wilayah motif atau Id kita, jadi kita dapat menemukan rumusan struktural Amsal Al Qur’an hanya di tataran lahiriah dan abstrak tetapi tidak mencukupi sesuai dengan kehendak utama dari Al Qur’an itu sendiri yaitu untuk menuntun qalbu atau sebagai petunjuk yang akan dapat merubah aktivitas motif atau Id kita, tegasnya akhlak kita.

Kesadaran akan batas kemampuan pendekatan ilmiah dan filosofis diatas kemudian mendorong kami untuk menemukan pendekatan lanjutan yang seiring waktu ditemukan jawabannya adalah berupa pendekatan sufistik. Titik awal sufistik dalam pencarian kami tersebut adalah pertemuan kami dengan kutipan-kutipan atau teks-teks Syaikh Ibn ‘Arabi melalui karya William C. Chittick yaitu “The Sufi Path of Knowledge. Karya itu sangatlah berat bagi pemahaman dan tidak dapat dipahami dengan pemikiran semata tetapi harus diiringi dengan pengamalannya. Sentuhan Syaikh Ibn ‘Arabi tersebut telah memungkinkan kami untuk merumuskan “Jalan Tawhid“.

Tahapan 3

M. Khairansyah
17 Desember 2017

Alih-alih menggabungkan Strukturalisme dengan khazanah Islam sebagai sesuatu yang sepadan, kami justru mendapati Sufistik sebagai yang mencerahkan pendekatan ilmiah dan filosofis yang termasuk di dalamnya Strukturalisme. Tetapi pencerahan itu sangat rahmatan sehingga kita tetap akan menemukan dan menggunakan Strukturalisme setelah dicerahkan melalui sufistik. Secara sufistik, pendekatan ilmiah dan filosofis ditempatkan sebagai bentuk metamorfosis dari sufistik yang akan diperlukan ketika pendekatan itu berada di wilayah objektivitas bagi pengguna ilmuwan ilmiah dan filosofis. Salah satu gagasan sufistik untuk mendasari hal ini adalah : Segala tujuan sesunguhnya dapat dicapai melalui “kesadaran”, perbedaan umat manusia sekarang dengan umat manusia terdahulu hanyalah dalam hal alat untuk mencapai tujuannya. Sebagai contoh, melalui tingkat kesadaran kenabian, Nabi Sulaiman as dapat mencapai tujuannya dengan menggunakan awan untuk menjelajahi bumi, memahami bahasa binatang, memerintahkan jin dan lain sebagainya. Demikian juga para Nabi lainnya dan terutama Nabi Besar Muhammad SAW yang merupakan Kautsar atau sumber dari semua objektivitas dan yang dapat menempuh perjalanan Isra’ Mi’raj dan aktivitas lainnya dengan taraf kesadaran beliau, begitupun para sahabat beliau. Jika dibandingkan dengan umat manusia sekarang, yaitu untuk mencapai tujuan-tujuannya umat manusia sekarang bertumpu pada tingkat kesadaran ilmiah dan filosofis.

Dalam tahapan ini kami masih merujuk pada Syaikh Ibn ‘Arabi, tetapi telah menjalar tidak hanya kepada teksnya namun sudah berupa ‘penempuhan perjalanan spiritual’ sebagaimana yang disarankan oleh Syaikh Ibn ‘Arabi yaitu melalui Thariqat. Dengan penempuhan jalan Thariqat maka ada banyak tahapan yang dilalui serta ada pembimbing spiritual yang masih hidup yang membimbing, yang tentunya memiliki peran yang lebih menyeluruh dibanding teks, yaitu para Syaikh atau Sufi Master yang adalah para Wali Allah Azza Wa Jalla.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, Insya Allah, amiin.

xxxxx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s