Dunia Kreatifitas

M. Khairansyah
10 April 2010

Bismillahirrahmaaniirrahiim

Perlahan tapi pasti, kata-kata ini, “dunia kreatifitas”, semakin mencari jati diri dalam diri dan kehidupanku. Tetapi sebagian besar aku masih merasakan diriku berkelumit tumit dengan persoalan filosofis atas berbagai hal.
Aku harus mencapai sesuatu dan sesuatu… !!!, sebelum aku dapat membayangkan anak-anakku juga akan dapat mencapainya. Insyaallah aku sudah mencapai diantara sesuatu itu. Tapi dalam tataran samudera kehidupan, ia masih sebagai sebuah mutiara yang tersimpan jauh di dasar lautan, dan tertutup kerang dan bebetuan karang. Ia seperti ”Onepiece” yang senantiasa dicari dan mengisi harapan dan hayalan semua bajak laut dan marineford dalam komik karya Eiichiro Oda. Cerita Oda masih jauh dari selesai untuk dapat menggambarkan Onepiece yang dipertarungkan itu, edisinya sedang dalam menarik-menariknya menggambarkan bahwa di hadapan sana terdapat wilayah New Era sebagai jalan untuk menuju Onepiece, yang dipenuhi para bajak laut dan marine dengan kekuatan yang jauh lebih hebat lagi.
Maka dalam hal ini saya sadari ”sesuatu” itu tentulah diawali oleh adanya seseoarang yang meng-creatnya / menciptakannya. Gold D Roger, nama inilah yang telah menciptakan Onepiece dan sekaligus mem-Bewara-kannya secara menggemparkan ke seantero dunia sesaat sebelum eksekusi mati mengakhiri hidupnya. Gold D Roger adalah seorang creator, ialah sosok kreatif yang sesungguhnya dalam cerita panjang dan menarik Onepiece tersebut. Gold D Roger sudah tiada, tetapi karya kreatifnya yang bahkan sama sekali belum terlihat dunia, namun terbayangkan melalui bewaranya, telah menjadi mutiara tersimpan yang tak hentinya diburu.
Onepiece dengan demikian tidak saja merupakan karya kreatif, tetapi juga telah berhasil menciptakan dunia kreatifnya sendiri. Dan dalam dunia kreatifnya itulah muncul nama-nama seperti Luffy, Shank, Zoro, Robin, Nami, Usop dst beserta setiap orang yang sedang dalam daya tarik dan pemburuan Onepiece. Dunia kreatif itulah kemudian yang bertindak untuk meningkatkan segala hal. Kelompok bajak laut Luffy harus semakin meningkat keinginan dan kekuatannya agar dapat bertahan dan melaju dalam dunia kreatif tersebut yang penuh dengan persaingan, adu kekuatan dan negosiasi.
Sedikit tentang negosiasi, negosiasi Luffy adalah negosiasi alamiah, bukan negosiasi kekuasaan, karena hubungannya dengan semua orang dan berbagai hal adalah hubungan yang alami, bukan hubungan kekuasaan yang penuh intrik dan efek samping memuakkan. Dengan bentuk hubungan inilah ia dengan segera mengetahui siapa yang baik dan layak untuk dapat berubah menjadi baik, dan sebaliknya orang yang memang sudah begitu culas di dunia itu saat itu. Tetapi dunia kreatif yang dikembangkannya pada akhirnya berhasil menyedot sebagian besar penjahat untuk kemudian menjadi pendukungnya di kemudian hari, suatu kekuatan yang paling ditakuti oleh Sichibukai Mihawk sekalipun yaitu ”kekuatan penarik dukungan”. Maka Luffy tidak saja sebagai yang berada dalam dunia kreatif Gold D Roger, tetapi ia adalah juga seorang ”pejuang tangguh dan sejati” dari dunia itu.
Dengan cara beginilah aku memahami kreatifitas dan dunianya. Dalam dunia nyata, kita dapat menemukan sosok Imam Hasan Al Bana dan mutiara kreatifitasnya ”Pergerakan Ikhwanul Muslimin” yang mendunia raya. Dan aku sendiri pernah memasuki dunia kreatifnya Sa’id Hawa melalui karyanya ”Jalan Ruhani”, Poespoprojo melalui bukunya ”Interpretasi”, Levi-Strauss beserta sejumlah tokoh filsafat melalui bentuk pemahaman ”Strukturalismenya”, dan Ibn ’Arabi melalui pembahas ulangnya William C. Chitick dengan karyanya ”The Sufi Path of Knowledge”, dan memasuki dunia kreatifitas Ilahiah melalui Kitab SuciNya Al Qur’an yang menghantarkanku pada kesejukan ruhaniah tersendiri yang kemudian di dalamnya aku meng-creat ”sesuatu”– sebuah rumusan sistematik, mendasar dan sederhana atas sesuatu yang secara signifikan mendasari perilaku sekalian manusia – yang kelak aku berharap anak-anakku juga akan dapat mencapainya dan berada dalam dunia kreatif ini, agar aku dapat menyatakan diri dihadapanNya bahwa aku telah menunaikan tanggung jawabku atas diriku dan keluargaku. Maka baiklah, ”Tidak diperlukan kelompok-kelompok bajak laut atau berbagai pasukan perang beserta kekuatan-kekuatannya – mengambil analogi atas komik Onepiece – untuk mencapai lautan dimana karya kreatifku itu tersimpan agar aku dapat mengenalkannya kepada anak-anakku dan keluargaku … !!, tetapi semua itu niscaya akan diperlukan dunia raya ketika ingin mencapainya ….!!!”. Karena memang beginilah cara dunia bekerja. Tidak semua karya kreatif yang di-Bewara-kan dengan cukup/baik, dan tidak semua yang di-Bewara-kan dengan baik yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh”. Suatu ketika Luffy pernah ditawarkan oleh orang terdekat Gold D Roger bernama Reylegh tentang keberadaan Onepiece, segera saja Luffy menolaknya dan menyatakan akan berhenti menjadi bajak laut kalau itu dilakukan oleh Reylegh. Dan diperlukan sebuah partai besar untuk dapat mendudukkan seorang Obama menjadi orang nomor satu di Amerika. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Tetapi yang pasti adalah ”dunia kreatifitas” mestilah menjadi pilihan kehidupan, karena yang selainnya, yaitu hidup tanpa panutan dan bimbingan, tanpa cita-cita dan dorongan, dan tanpa karya dan perjuangan adalah hidup dalam kemalasan, keleha-lehaan dan kesia-siaan. Maka, selamat datang duhai anakku, keluargaku dan siapapun yang cinta berbagai hal kebaikan …. di DUNIA KREATIFITAS…!!!.
Dengan cara ini kini aku lebih mudah memahami dunia-dunia lainnya. Sebagian orang dominan dalam dunia aktivitas sehingga kita bisa melihat keuletannya, sebagian lagi dalam dunia eksploratifitas sehingga kita kagum dengan kecanggihannya, dan yang lainnya dalam dunia kreatifitas sehingga kita akan tercengang dengan kebaruan, varietas dan keunikannya.
Sekarang aku berfikir tentang anak-anakku dan keluarga mungilku. Aku harus mencapai sesuatu …!!! sebelum aku dapat membayangkan mereka juga dapat mencapainya. Aku hidup dari keluarga PNS. Ayah dan Ibuku PNS, dengan profesi guru, dan sungguh …. mereka adalah orang-orang yang ulet. Ketika beliau aktif di masjid dan yang lainnya, maka yang paling menonjol dari beliau adalah keuletan/kesungguhan ini. Dan terlahirlah enam bersaudara dalam keluarga ini. Dua orang kakakku yang teratas sudah mengikuti jejak beliau dengan menjadi PNS dan juga profesi guru. Kakakku yang ketiga masuk ke dunia bisnisitas, kakak yang keempat masuk ke dunia sosialitas, yang kelima ke dunia ……………., dan aku sendiri tak pelak lagi berkecamprah di dunia kreatifitas tetapi sayangnya kreatifitas filosofitas.
Sejak kecil sekali aku tidak pernah betul-betul tertarik untuk membawakan gaya irama mengaji yang sudah ada saat itu. Aku selalu tampil dengan irama mengajiku sendiri. Ketika SMA, aku menyukai berbagai bentuk jenis musik tetapi juga tidak pernah berkeinginan untuk membawakannya ke panggung, tetapi memilih mengarang lagu sendiri dan mengolahnya bersama beberapa teman dan menampilkannya di panggung. Ketika kuliah, aku lebih suka menjawab soal dan memimpin kelompok diskusi dengan hasil bacaan dan kesimpulan sendiri ketimbang dari apa-apa yang pernah disampaikan dosen di sepanjang jam kelas. Dan di akhir perkuliahan aku juga memilih bentuk judul yang berbeda dengan yang umum pada saat itu. Ketika teman-temanku maju dengan judul seperti ”Konsep A menurut Ahli A, atau Konsep B menurut Ahli B”, aku sudah mengambil judul ”A dalam pendekatan X”. Dosen di jurusanku mengatakan ”Kamu mengajukan judul ini karena ingin dianggap hebat ya”, sebaliknya dosen yang di Filsafat justru terkesan dengan originalitas, kemampuan pembacaaan dan hasil rumusan tugas akhirku. Bukan Pak Dosen …. ini bukan aku ingin dianggap hebat, tapi ini adalah darah yang mengalir dalam diriku ”Darah Kreatifitas Filosofisitas”, tidak ada yang menyuruhku, mengimingiku, mendeviasikanku untuk menuju ke sini, tetapi ini bagian dari sejarah kehidupanku. Dan akupun maju ke persidangan akhir, menghadapi dosen-dosen jurusanku … Musibah …!!! komunikasiku hancur-hancuran, perjuanganku yang teguh dengan prinsip ”tidak akan sekali-kali mencontek karya orang lain, tidak akan mengejar cepat tamat tapi tak berkualitas, aku berada di jurusan Tafsir, maka aku haruslah tamat dari jurusan ini sebagai seorang yang mampu menafsirkan, aku harus mendalami pendekatannya dan menerapkannya ke Al Qur’an, dan untuk ini aku telah menyerahkan berberapa tahun kehidupanku hanya untuk mendalami buku-buku canggih soal pendekatan, dan beberapa tahun lagi untuk merumuskan ulang sebuah pendekatan yang mungkin, dan beberapa tahun lagi untuk menerapkannya” – ditelan begitu saja dalam sekejap, dan mereka mengeksekusiku dengan ketuk palu huruf ketiga …. . Dan itu terjadi dalam suasana ketidakmenyambungan. Kasusnya dapat dijelaskan dengan skema wicara F. de Saussure, syarat terjadinya dialog adalah ada parole/pelaku minimal dua orang dan ada wilayah langue yaitu hal-hal umum yang disepakati secara bersama, sedang yang terjadi pada saat sidang adalah Pak Penguji asyik berdialog dengan pemikiran/dirinya sendiri dan bukannya denganku atau tugas akhirku, dan juga belum tercapai kesepakatan pemaknaan hermeneutika sebagai tafsir, atau filsafat sebagai salah satu pendekatan tafsir, dan lain-lain.
Itulah cerita kemaren soreku. Dan sekarang aku sudah memiliki keluarga mungil dan usaha mungil. Dengan ini maka Insyaallah masih ada waktu bagiku untuk meneruskan aliran darah kreatifitas filosofitasku dan tas-tas ku lainnya yang hidup bersamanya. Aku mencemati seorang penghafal al Qur’an Cilik ”Husein”, dan bagaimana ia mencapainya, yaitu karena ada proses pembiasaan oleh kedua orang tuanya di rumah dan di sepanjang kegiatan keseharian mereka atas Hasan dengan hafalan-hafalan al Qur’an sejak usia 2 tahun. Dan ada lagi seorang cilik yang dapat menghitung cepat, mengalahkan orang-orang dewasa yang menggunakan kalkulator dan sempoa, dan ia menuturkan ayahnya adalah seorang guru les matematika dan ia sudah dibiasakan dengan penghitungan sejak usia du tahunnya. Maka kata kuncinya adalah ”pembiasaan” apa yang sebaiknya ku sebarkan di dalam keluarga mungilku ini … pembiasaan kreatifitas filosofitas !!!
Ketika aku berfikir tentang dunia sekarang dalam skema dunia kreatifitas filolosofitasku, maka aku membayangkan sesuatu yang dapat menyatukan berbagai bentuk pemikiran, sesuatu yang akan dapat membewarakannya, dan sesuatu yang akan dapat memperjuangkannya. Subhanallah.

—–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s