Cahaya Buah Hatiku di Ufuk Barat

M. Khairansyah
Kamis, 2 April 2009

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Ummi, Ummi, Ummi …. ha ya ha ya ya ha ha …. Ummi punylang ….“ lantunan kegembiraan bak tari gelombang menghantam hangat di langkah yang masih menghara biru melewati pantai panas perumahan-perumahan yang dibangun setengah hati yang tak terjangkau transportasi kota dan terkadang juga seperti tempat gembalaan ratusan sapi liar perkampungan. Lukisan keringat dan kerut kening penahan beban tubuh dan tas sandang segera terasa sejuk di pelupuk mata yang memandang dari balik pagar sekuntum harapan hati berloncatan sambil mengepak-ngepakan tangan berseloroh sesukanya meluapkan kegembiraan, “Ummiiii …. ha ya ha ya ya ha ha”. “Sreng …..” dengan sigap si Ummi pun menggeser pagar seng setengah berkarat sambil mengayunkan tangan menggapai-gapai seakan hati sudah mendekap duluan, “Assalamu’alaikum naaak…!!”, “kumcalam”, sahut menyahut berketerusan menyempurnakan kisah perjumpaan, “sayang bana awak mah samo anak awak ko mah”, “ya ha haa”, “manih bagulo, bagulo kakak Kasyfah, kakak Kasyfah sholehah, tayang dedek Fulkah”, “Ummi…Ummi…”, bertalu-talu hingga ketiduran terhenyak menikmati potongan kehidupan menjelangi ufuk yang masih jauh di hadapan.

Mutiara kehidupan bergitu rumit untuk dikristalkan, hingga dapat muncul sebagai butiran berharga tinggi bermiliyaran. Sebaliknya lebih sebagai sebaran angin yang dapat diperoleh manfaatnya dari hirupan demi hirupan dan tak pernah bisa tergenggam di tangan. Tetapi konon serpihan-serpihannya bisa disatukan di dalam hati yang berkeyakinan, yang senantiasa mencari jalan hubungan dengan Cahaya Sungguhan Allah An Nuur Sumber Pengcahayaan. Dari titik inilah do’a sang Ummi solehah memancar “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami anak yang soleh dan sholehah, anak yang mendapat petunjuk dan bimbinganMu, yang dapat mengenalMu, yang mentaatiMu, yang mendapat pertolongan dan kasih sayangMu, Duhai Yang Maha Pemberi Petunjuk, Maha Penolong lagi Maha Pengasih dan Penyayang”.

“It’s hard letting you go …” begitu tergambar jeritan si buah hati ketika berkali-kali ditinggalkan sepenggal hari guna memenuhi rupa-rupa kewajiban. “Srrreeeaaak …” sekulum senyuman yang mengakar ke lentera hati yang berketeguhan merekah menjawab tangisan menghantarkan pesan “Ketawakkalan kepada Pengatur Masa Depan yang terhitung sejak sepersekian detik sang buah hati ditinggal dan dititipkan, INSYA ALLAH NAK …. INSYAALLAH … ENGKAU…. AKAN BERCAHAYAAA …. DI UFUK BARAT SANAAAA … H !!!!!”, Subhanallah, walhamdulillah wasyukrulillah, Amin Allahumma Amiin.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s